Dokter Ungkap Keluhan Perempuan yang Sering Disangka Depresi Bisa Jadi Akibat Perubahan Hormon
Perubahan suasana hati, rasa mudah lelah, sulit tidur, hingga munculnya kecemasan sering kali dianggap sebagai tanda depresi pada perempuan. Namun, dokter mengingatkan bahwa keluhan tersebut tidak selalu berkaitan dengan gangguan kesehatan mental karena bisa menjadi respons alami tubuh terhadap perubahan hormon.
Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Prodia Women’s Health Center, dr. Ratna Dewi Puspita Sari, SpOG, MARS, FISQua, mengatakan perempuan mengalami perubahan hormon dalam berbagai fase kehidupan, mulai dari masa reproduksi, kehamilan, setelah melahirkan, hingga menjelang menopause.
Perubahan kadar hormon seperti estrogen, progesteron, prolaktin, dan human chorionic gonadotropin (hCG) memiliki pengaruh besar terhadap sistem reproduksi, metabolisme, hingga kondisi emosional seseorang. Ketidakseimbangan hormon dapat memicu berbagai keluhan yang sering kali menyerupai gejala depresi.
“Kalau mengalami hal-hal ini jangan buru-buru bilang depresi,” kata Ratna dalam diskusi media pada Sabtu (20/6/2026).
Menurutnya, pemahaman terhadap perubahan hormon perempuan masih perlu ditingkatkan. Tidak sedikit perempuan yang langsung melakukan self-diagnosis ketika mengalami perubahan emosi atau gangguan tidur tanpa mengetahui penyebab utama yang terjadi di dalam tubuhnya.
Padahal, diagnosis depresi membutuhkan evaluasi medis secara menyeluruh, termasuk melihat durasi gejala, tingkat keparahan, dampaknya terhadap aktivitas sehari-hari, serta kemungkinan adanya kondisi kesehatan lain yang memengaruhi.
baca juga”Alasan Memilih Susu Nabati sebagai Campuran Kopi“
Perimenopause Menjadi Fase yang Sering Menimbulkan Keluhan Mirip Depresi
Salah satu fase yang paling sering menyebabkan perubahan fisik dan emosional pada perempuan adalah perimenopause. Fase ini merupakan masa transisi sebelum menopause ketika produksi hormon reproduksi mulai menurun dan mengalami fluktuasi.
Ratna menjelaskan bahwa perimenopause bukanlah penyakit, melainkan proses biologis alami yang dialami setiap perempuan. Meski demikian, perubahan hormon pada masa ini dapat memengaruhi kualitas hidup apabila tidak dipahami dengan baik.
Gejala yang muncul selama perimenopause dapat berbeda pada setiap individu. Beberapa perempuan mungkin mengalami keluhan ringan, sementara yang lain merasakan perubahan yang lebih mengganggu aktivitas sehari-hari.
Tanda yang paling sering muncul antara lain hot flash atau sensasi panas tiba-tiba pada tubuh, keringat berlebih terutama pada malam hari, gangguan tidur, mudah merasa lelah, penurunan energi, sulit berkonsentrasi, serta perubahan suasana hati yang terjadi secara cepat.
Sebagian perempuan juga dapat mengalami rasa cemas, mudah tersinggung, hingga kehilangan motivasi sementara. Karena kemiripan gejalanya, kondisi tersebut kerap disalahartikan sebagai depresi tanpa pemeriksaan lebih lanjut.
Ratna menegaskan bahwa perubahan emosional yang terjadi selama perimenopause dapat menjadi bagian dari adaptasi tubuh terhadap perubahan hormon. Oleh karena itu, perempuan disarankan untuk memahami sinyal tubuhnya dan tidak langsung memberikan diagnosis sendiri.
“Bisa jadi ini karena hormon yang sedang beradaptasi,” ujar Ratna.
Pentingnya Pemeriksaan Hormon untuk Perempuan Memasuki Usia 40 Tahun
Untuk membantu mengenali perubahan yang terjadi dalam tubuh, Ratna menyarankan perempuan yang memasuki usia 40 tahun mulai mempertimbangkan pemeriksaan kesehatan hormon secara berkala.
Pemeriksaan tersebut dapat meliputi kadar estrogen, progesteron, follicle stimulating hormone (FSH), luteinizing hormone (LH), serta prolaktin. Hasil pemeriksaan dapat membantu dokter mengevaluasi kondisi hormonal dan memberikan rekomendasi penanganan yang sesuai.
“Jangan tunggu sakit baru diperiksa. Lebih baik tahu lebih awal kondisi hormon kita,” kata Ratna.
Pemeriksaan sejak dini memungkinkan perempuan mengambil langkah pencegahan sebelum keluhan menjadi lebih berat. Dengan mengetahui kondisi tubuh, perempuan dapat melakukan perubahan gaya hidup yang mendukung keseimbangan hormon.
Langkah yang dapat dilakukan antara lain menerapkan pola makan bergizi seimbang, memperbanyak konsumsi makanan kaya serat dan protein, menjaga berat badan ideal, rutin melakukan aktivitas fisik, serta memiliki waktu istirahat yang cukup.
Selain itu, pengelolaan stres juga menjadi faktor penting karena tekanan psikologis yang berkepanjangan dapat memperburuk keluhan seperti gangguan tidur dan perubahan suasana hati.
Menopause Dipengaruhi Faktor Genetik dan Gaya Hidup Perempuan
Menopause merupakan kondisi ketika perempuan tidak mengalami menstruasi selama 12 bulan berturut-turut. Fase ini menandai berakhirnya masa reproduksi dan terjadi akibat menurunnya fungsi ovarium dalam menghasilkan hormon estrogen dan progesteron.
Waktu terjadinya menopause tidak sama pada setiap perempuan. Faktor genetik, terutama riwayat menopause pada ibu, dapat memengaruhi usia seorang perempuan mengalami menopause.
Selain faktor keturunan, gaya hidup seperti pola makan, aktivitas fisik, kondisi kesehatan umum, serta paparan stres dalam jangka panjang juga dapat berpengaruh terhadap kesehatan hormonal perempuan.
Ratna menekankan bahwa setiap perempuan memiliki perjalanan hormonal yang unik. Karena itu, tidak semua keluhan yang muncul menjelang menopause harus dianggap sebagai tanda gangguan mental.
Memahami perubahan hormon, melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin, serta berkonsultasi dengan tenaga medis dapat membantu perempuan menjalani masa perimenopause dan menopause dengan lebih nyaman.
Kesadaran terhadap kesehatan hormonal juga menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas hidup perempuan di usia matang. Dengan pengetahuan yang tepat, perempuan dapat membedakan perubahan tubuh yang masih normal dan kondisi yang membutuhkan penanganan medis lebih lanjut.
baca juga”Terapkan Prinsip ‘Alon-alon Asal Finish’ untuk Cegah Risiko Serius Saat Lari“