Tren Blind Box Berlebihan Berisiko Memengaruhi Kesehatan Mental
Tren blind box semakin populer di berbagai negara, termasuk Indonesia. Produk yang berisi figur koleksi atau mainan misterius ini menawarkan sensasi kejutan karena pembeli tidak mengetahui isi kotak sebelum membukanya. Meski dianggap sebagai hiburan, pakar mengingatkan bahwa kebiasaan membeli blind box secara berlebihan dapat berdampak pada kesehatan mental.
Fenomena ini banyak ditemukan pada berbagai seri koleksi populer seperti Labubu, Sanrio, hingga Upset Duck. Dalam setiap seri biasanya terdapat karakter langka atau secret yang sulit diperoleh. Kondisi tersebut mendorong sebagian kolektor membeli banyak kotak sekaligus demi mendapatkan item yang diincar.
baca juga”Pakar Gizi Jelaskan Manfaat Berhenti Makan Sebelum Kenyang“
Mekanisme Psikologis Blind Box dan Risiko Perilaku Adiktif
Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, dr. Samuel Stemi, MBiomed, AIFO-K, Dipl AAAM, menjelaskan bahwa daya tarik utama blind box berasal dari rasa penasaran dan kejutan yang muncul saat membuka kemasan. Sensasi tersebut memicu perasaan senang yang membuat seseorang ingin mengulangi pengalaman serupa.
Menurutnya, selama dilakukan dalam batas wajar, blind box masih dapat menjadi sarana hiburan. Namun, ketika aktivitas tersebut dilakukan berulang kali tanpa kontrol, perilaku itu berpotensi berkembang menjadi kebiasaan yang sulit dihentikan.
Samuel menjelaskan bahwa unsur ketidakpastian dalam blind box dapat memicu pelepasan hormon dopamin di otak. Hormon ini berkaitan dengan sistem penghargaan yang membuat seseorang merasa senang dan termotivasi untuk mengulangi suatu tindakan. Dalam beberapa kasus, efek dopamin dari hadiah yang tidak pasti bahkan bisa lebih kuat dibandingkan hadiah yang sudah diketahui sebelumnya.
Dari sisi psikologis, kebiasaan membeli blind box secara berlebihan dapat meningkatkan impulsivitas dan menurunkan kemampuan seseorang untuk menunda keinginan. Selain itu, pengeluaran yang tidak terkendali juga berpotensi menimbulkan stres, terutama jika aktivitas tersebut mulai mengganggu kondisi keuangan pribadi.
Samuel menilai mekanisme yang terjadi pada tren blind box memiliki kemiripan dengan perilaku adiktif lain. Kesamaannya terletak pada sistem penghargaan yang tidak pasti, aktivasi jalur dopamin di otak, serta dorongan untuk terus mencoba mendapatkan hasil yang diinginkan.
Kekecewaan dan Dorongan Membeli Kembali Perkuat Siklus Konsumsi
Risiko lain muncul ketika pembeli mendapatkan karakter yang tidak diharapkan atau memperoleh item duplikat. Situasi ini sering menimbulkan rasa kecewa yang kemudian memicu keinginan untuk membeli kembali demi memperoleh hasil yang dianggap lebih memuaskan.
Dalam psikologi, kondisi tersebut dikenal sebagai reward chasing behavior. Perilaku ini membuat seseorang terus mengejar kepuasan yang belum tercapai, sehingga berpotensi memperkuat pola konsumsi yang berulang.
Selain berdampak pada kondisi mental, stres yang berlangsung dalam jangka panjang juga dapat memengaruhi kesehatan fisik. Kadar hormon kortisol yang meningkat akibat tekanan psikologis dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan, termasuk gangguan metabolisme, peradangan kronis, dan percepatan penuaan biologis.
Mindful Buying Jadi Kunci Menghindari Dampak Negatif
Untuk mengurangi risiko tersebut, Samuel menyarankan masyarakat menerapkan prinsip mindful buying atau membeli secara sadar. Langkah ini dapat dilakukan dengan menetapkan batas anggaran, mengatur frekuensi pembelian, dan memahami tujuan membeli barang koleksi.
Ia juga menekankan pentingnya literasi finansial dan kemampuan mengendalikan impuls, terutama bagi remaja yang menjadi salah satu kelompok terbesar dalam tren koleksi blind box. Peran orang tua juga diperlukan untuk membantu mengawasi pola konsumsi anak agar tetap sehat dan proporsional.
Apabila kebiasaan membeli blind box mulai bersifat kompulsif, memicu stres, atau mengganggu aktivitas sehari-hari, konsultasi dengan psikolog atau psikiater dapat menjadi langkah yang tepat. Dengan pengelolaan yang baik, blind box tetap dapat dinikmati sebagai hiburan tanpa menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan mental maupun kondisi keuangan.
baca juga”Blind Box Kekinian Favorit Anak Muda: Lucu, Estetik, dan Instagramable“