Teknologi Kesehatan Perlu Tetap Berpusat pada Manusia
Pemanfaatan teknologi dalam layanan kesehatan terus berkembang dan menawarkan berbagai peluang untuk meningkatkan mutu pelayanan. Namun, inovasi tersebut perlu tetap berpijak pada bukti ilmiah dan kebutuhan pasien agar kemajuan teknologi tidak mengurangi unsur kemanusiaan dalam layanan kesehatan.
Baca Juga “AI Membantu Tenaga Kefarmasian, Bukan Menggantikannya“
Prinsip tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam The 8th International Conference on Health Administration and Policy (ICoHAP) 2026. Forum ini mempertemukan akademisi, praktisi, dan peserta dari sejumlah negara untuk membahas masa depan tata kelola serta pelayanan kesehatan.
Ketua Panitia ICoHAP 2026, dr. Hilmy Razhan Muhammad, mengatakan pengembangan layanan kesehatan membutuhkan keseimbangan antara ilmu berbasis bukti, teknologi, dan pendekatan yang berorientasi pada manusia.
Tiga Unsur Penting dalam Transformasi Layanan Kesehatan
Menurut Hilmy, bukti ilmiah berperan sebagai landasan ketika fasilitas kesehatan merancang kebijakan maupun layanan. Teknologi kemudian dapat digunakan untuk mendukung proses tersebut dan meningkatkan kemampuan pelayanan kepada masyarakat.
Di sisi lain, pendekatan human-centered healthcare memastikan pasien tetap menjadi pertimbangan utama dalam penerapan berbagai inovasi. Dengan pendekatan ini, teknologi berfungsi sebagai alat pendukung, bukan pengganti hubungan antara tenaga kesehatan dan pasien.
“Ketiga aspek tersebut diharapkan dapat berjalan secara seimbang dan saling melengkapi, bukan saling mendahului,” ujar Hilmy, Minggu, 20 September 2026.
Ia menegaskan penerapan teknologi tidak seharusnya menghilangkan sentuhan manusia dalam pelayanan kesehatan. Aspek tersebut menjadi penting karena kualitas layanan tidak hanya berkaitan dengan perangkat atau sistem digital yang digunakan.
Keseimbangan tersebut juga dapat menjadi pertimbangan ketika fasilitas kesehatan mengadopsi teknologi baru. Penggunaannya perlu mempertimbangkan manfaat klinis, kebutuhan pasien, serta kemampuan tenaga kesehatan dalam mengoperasikan sistem tersebut.
ICoHAP Dorong Hasil Riset Menjadi Inovasi
ICoHAP 2026 tidak hanya menjadi ruang untuk mempresentasikan penelitian. Forum tersebut juga diarahkan untuk membuka peluang kolaborasi antara berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap administrasi dan kebijakan kesehatan.
Hilmy berharap gagasan yang muncul dalam konferensi dapat diterapkan lebih luas setelah kegiatan berakhir. Menurutnya, penelitian akan memberikan manfaat lebih besar apabila dapat menjadi dasar pengembangan inovasi dan perbaikan pelayanan.
“Harapannya, ilmu dan hasil penelitian yang disampaikan tidak berhenti hanya di forum ini, tetapi dapat berkembang menjadi kolaborasi dan inovasi,” katanya.
Ia juga berharap hasil diskusi dapat memberikan masukan terhadap penyusunan kebijakan kesehatan. Dengan demikian, pembahasan akademik dapat memiliki keterkaitan dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan pelayanan kesehatan.
Perbedaan Sistem Kesehatan Jadi Bahan Pembelajaran
Pertemuan internasional juga memberikan kesempatan bagi peserta untuk melihat bagaimana negara lain mengelola sistem kesehatan. Setiap negara memiliki kondisi ekonomi, kapasitas layanan, serta mekanisme pembiayaan yang berbeda.
Perbedaan tersebut dapat menjadi bahan perbandingan untuk memahami berbagai pendekatan dalam administrasi kesehatan. Indonesia dapat mempelajari praktik dari negara lain dengan tetap menyesuaikannya terhadap kebutuhan dan karakteristik sistem domestik.
Koordinator Program Studi Magister Administrasi dan Kebijakan Kesehatan FKM UNAIR, Dr. Ernawaty, drg., M.Kes., mengatakan pertukaran pengalaman dapat membantu memperluas perspektif mengenai pengembangan sistem kesehatan.
“Dari perbedaan tersebut, kita dapat bertukar pengetahuan dan melihat hal-hal apa yang mungkin bisa menjadi pembelajaran untuk memperbaiki sistem kesehatan di Indonesia,” kata Ernawaty.
Menurutnya, forum internasional juga dapat memperluas kesempatan bagi akademisi dan praktisi untuk membangun hubungan profesional. Pertukaran pengetahuan menjadi salah satu bagian penting dalam pengembangan kapasitas bidang administrasi dan kebijakan kesehatan.
Mahasiswa Terlibat dalam Konferensi Internasional
ICoHAP 2026 turut memberikan ruang bagi mahasiswa Program Studi Magister Administrasi dan Kebijakan Kesehatan untuk mendapatkan pengalaman di luar kegiatan akademik rutin.
Mahasiswa S2 AKK tidak hanya mengikuti pembahasan ilmiah dalam konferensi. Mereka juga terlibat sebagai bagian dari panitia sehingga memperoleh pengalaman dalam mengelola kegiatan dengan peserta dan pembicara dari berbagai negara.
Ernawaty mengatakan pengalaman tersebut dapat membantu mahasiswa mengembangkan kemampuan profesional. Keterlibatan dalam konferensi juga membuka kesempatan untuk membangun jejaring dengan akademisi maupun praktisi bidang kesehatan.
“Melalui penyelenggaraan konferensi internasional seperti ini, kami ingin mahasiswa S2 tidak hanya mendapatkan manfaat secara ilmiah atau akademik,” ujarnya.
Menurut Ernawaty, pengalaman tersebut diharapkan dapat melengkapi kompetensi mahasiswa dalam bidang Administrasi dan Kebijakan Kesehatan. Kemampuan akademik dapat berjalan bersama pengalaman praktis dan pengembangan jejaring profesional.
ICoHAP 2026 Libatkan Peserta dari Dua Negara
ICoHAP 2026 mengusung tema “Reimagining Healthcare: Synergizing Evidence-Based Governance, Technology, and Human-Centered Healthcare for a Better Future.” Tema tersebut menyoroti hubungan antara tata kelola berbasis bukti, teknologi, dan pelayanan kesehatan yang berorientasi pada manusia.
Konferensi ini diikuti 158 peserta dari Indonesia dan Timor-Leste. Pembicara yang hadir berasal dari Indonesia, Malaysia, Abu Dhabi, dan Singapura.
Keragaman peserta dan pembicara memberikan ruang untuk membahas persoalan kesehatan dari berbagai sudut pandang. Pertukaran pengalaman tersebut juga dapat memperkaya diskusi mengenai penerapan teknologi dalam sistem kesehatan.
Pada akhirnya, transformasi digital di sektor kesehatan perlu berjalan bersama dengan peningkatan kualitas pelayanan. Teknologi dapat membantu memperkuat sistem kesehatan, tetapi kebutuhan pasien, bukti ilmiah, dan peran tenaga kesehatan tetap menjadi bagian penting dalam setiap proses pengembangannya.