RMIT dan Mandaya Dorong Teknologi Kesehatan Lebih Dekat ke Pasien
RMIT University dan Mandaya Hospital Group menjajaki kolaborasi pemanfaatan riset serta teknologi kesehatan untuk membantu mengatasi kesenjangan layanan kesehatan di Indonesia.
Kolaborasi tersebut dibahas dalam forum “Healthier Futures, Sooner: How Technology Closes the Gap in Care” di Jakarta. Forum mempertemukan peneliti, klinisi, dan pemimpin sektor kesehatan dari Australia serta Indonesia.
Kerja sama ini memadukan keahlian RMIT di bidang kesehatan, rekayasa, dan teknologi medis dengan pengalaman klinis Mandaya Hospital Group. Kedua pihak ingin mendorong hasil penelitian agar dapat diuji dan diterapkan dalam layanan kesehatan nyata.
Riset Kesehatan Diarahkan Menjawab Kebutuhan Pasien
RMIT dan Mandaya melihat penerapan riset sebagai bagian penting dalam pengembangan layanan kesehatan. Inovasi teknologi diharapkan tidak berhenti pada tahap penelitian, tetapi dapat memberikan manfaat langsung kepada pasien.
Tantangan layanan kesehatan Indonesia masih berkaitan dengan kondisi geografis kepulauan dan distribusi tenaga kesehatan. Peningkatan penyakit kronis juga menambah kebutuhan terhadap layanan yang dapat menjangkau pasien secara lebih luas.
Proyeksi Kementerian Kesehatan pada 2026 menunjukkan distribusi tenaga medis dan tenaga kesehatan masih terkonsentrasi di wilayah perkotaan serta Pulau Jawa. Sementara itu, sejumlah wilayah di Indonesia timur masih menghadapi keterbatasan tenaga kesehatan.
Kondisi tersebut membuka peluang bagi pemanfaatan teknologi untuk melengkapi layanan konvensional. Teknologi dapat membantu tenaga kesehatan melakukan pemantauan, mempercepat pertukaran informasi, dan mendukung pengambilan keputusan klinis.
Teknologi Digital Buka Peluang Perluasan Akses
Pemerintah juga mengembangkan ekosistem kesehatan digital melalui SATUSEHAT. Sistem tersebut diarahkan untuk memperkuat keterhubungan informasi kesehatan antar-fasilitas.
Perkembangan ekosistem digital memberikan peluang bagi penerapan teknologi kesehatan yang lebih terintegrasi. Telehealth dan pemantauan pasien jarak jauh menjadi beberapa pendekatan yang dapat membantu mengatasi kendala jarak.
Dalam forum tersebut, peserta turut membahas kecerdasan buatan atau AI, sensor wearable, biomarker, serta sistem kesehatan yang saling terhubung.
Teknologi tersebut dapat membantu memperkuat kemampuan klinis. Namun, penerapannya tetap membutuhkan penyesuaian dengan kondisi fasilitas, tenaga kesehatan, serta kebutuhan pasien di Indonesia.
RMIT Tekankan Pentingnya Solusi Sesuai Kebutuhan Lokal
Direktur RMIT Indonesia Tantia Dian Permata Indah mengatakan inovasi kesehatan perlu mempertimbangkan kebutuhan nyata pasien dan tenaga kesehatan.
“Prioritas layanan kesehatan Indonesia membutuhkan solusi yang tidak hanya inovatif, tetapi juga relevan dengan realitas yang dihadapi pasien dan tenaga kesehatan di Indonesia,” kata Tantia, Kamis (3/9/2026).
Menurutnya, penggabungan kemampuan riset global RMIT dengan mitra lokal seperti Mandaya dapat membantu menghasilkan solusi yang lebih sesuai dengan kebutuhan Indonesia.
Kolaborasi antara institusi pendidikan dan penyedia layanan kesehatan juga memungkinkan peneliti memahami tantangan klinis secara langsung. Pendekatan tersebut dapat memperkecil jarak antara pengembangan teknologi dan penerapannya di lapangan.
Validasi Klinis dan Keamanan Data Tetap Menjadi Prioritas
Pengembangan teknologi kesehatan membutuhkan lebih dari sekadar perangkat atau sistem yang canggih. Validasi klinis menjadi salah satu tahapan penting untuk memastikan teknologi memberikan manfaat dan dapat digunakan secara aman.
Keamanan data pasien juga menjadi perhatian utama dalam digitalisasi layanan kesehatan. Sistem yang digunakan harus mampu melindungi informasi kesehatan sekaligus mendukung kebutuhan tenaga medis.
Kesiapan sumber daya manusia juga menentukan keberhasilan implementasi. Tenaga kesehatan perlu memahami cara menggunakan teknologi serta mengintegrasikannya dengan proses pelayanan yang sudah berjalan.
Karena itu, pengembangan teknologi perlu melibatkan klinisi sejak tahap awal. Masukan dari tenaga kesehatan dapat membantu peneliti menyesuaikan inovasi dengan kebutuhan praktik klinis.
RMIT Dorong Kolaborasi Peneliti dan Klinisi
Profesor Ross Vlahos dari RMIT University menilai penelitian akan memberikan manfaat lebih besar ketika hasilnya dapat diterapkan dalam praktik pelayanan.
“Riset menghasilkan nilai terbesar ketika manfaatnya menjangkau pasien dan meningkatkan praktik sehari-hari,” ujar Ross Vlahos.
Menurutnya, peneliti, klinisi, dan organisasi layanan kesehatan perlu bekerja bersama sejak awal. Kolaborasi tersebut diperlukan agar inovasi dapat diterapkan secara aman dan efektif.
Pendekatan ini juga membantu mengidentifikasi kebutuhan yang benar-benar dihadapi pasien. Dengan demikian, penelitian tidak hanya mengejar aspek teknologi, tetapi juga mempertimbangkan manfaat klinis dan pengalaman pasien.
Praktik Pencegahan Jatuh dan Kesehatan Lutut Diperkenalkan
Forum Healthier Futures, Sooner juga menghadirkan sesi praktik terkait pencegahan risiko jatuh dan kesehatan lutut.
Sesi tersebut memperlihatkan contoh penerapan hasil riset untuk mendukung pencegahan, rehabilitasi, serta pemulihan pasien.
Praktik tersebut menunjukkan bahwa teknologi dan penelitian dapat diterapkan dalam berbagai tahap layanan. Pendekatan berbasis riset dapat membantu tenaga kesehatan mengembangkan metode pencegahan dan pemulihan yang lebih terukur.
Bagi pasien, penerapan hasil penelitian diharapkan dapat meningkatkan kualitas layanan. Namun, setiap teknologi tetap perlu melalui pengujian dan evaluasi sebelum digunakan secara lebih luas.
Mandaya Tekankan Pentingnya Pengetahuan Klinis Lokal
Co-Founder dan Presiden Direktur Mandaya Hospital Group Dr Ben Widaja mengatakan keterlibatan klinisi sejak awal diperlukan agar inovasi sesuai dengan kebutuhan layanan kesehatan Indonesia.
“Menggabungkan keahlian riset RMIT dengan pengetahuan klinis lokal Mandaya dapat membantu kami mengidentifikasi solusi yang relevan bagi Indonesia,” kata Ben Widaja.
Menurutnya, kolaborasi tersebut juga membuka peluang untuk menguji penerapan teknologi secara bertanggung jawab dalam layanan kesehatan nyata.
Pengetahuan klinis lokal dapat membantu menilai apakah sebuah inovasi sesuai dengan kondisi pasien, fasilitas, tenaga kesehatan, dan sistem pelayanan di Indonesia.
RMIT dan Mandaya Jajaki Riset Bersama
Forum tersebut menjadi langkah awal untuk memperluas kerja sama antara RMIT dan Mandaya. Kedua pihak menjajaki beberapa bidang yang dapat dikembangkan melalui kolaborasi.
Ruang kerja sama mencakup riset bersama, penerapan hasil penelitian dalam praktik klinis, pengembangan tenaga kesehatan, serta uji coba teknologi.
Kedua pihak juga dapat mengevaluasi teknologi berdasarkan kebutuhan layanan kesehatan di Indonesia. Pendekatan tersebut penting agar inovasi yang dikembangkan memiliki manfaat praktis dan dapat diterapkan secara bertanggung jawab.
Teknologi Kesehatan Berpeluang Persempit Kesenjangan Layanan
Kolaborasi RMIT dan Mandaya menunjukkan pentingnya hubungan antara penelitian, teknologi, dan praktik klinis. Integrasi ketiga aspek tersebut dapat membantu menciptakan solusi yang lebih relevan bagi kebutuhan kesehatan Indonesia.
Telehealth, pemantauan jarak jauh, AI, wearable, biomarker, dan sistem informasi terintegrasi memiliki potensi mendukung layanan kesehatan. Namun, penerapannya tetap harus memperhatikan keamanan, validasi, kesiapan tenaga kesehatan, serta kebutuhan pasien.
Ke depan, riset bersama dan uji coba teknologi dapat menjadi tahap penting untuk mengukur efektivitas inovasi. Jika berhasil diterapkan secara tepat, kolaborasi ini berpeluang membantu memperluas akses sekaligus meningkatkan kualitas layanan kesehatan di Indonesia.
Baca Juga “Wamendiktisaintek: Riset dan Investasi Jadi Kunci Perluasan Layanan Kesehatan“