AI Kesehatan Dukung Layanan Medis Onsite di Muktamar ke-35 NU
Rangkaian Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) menghadirkan pendekatan baru dalam dukungan pelayanan kesehatan bagi peserta. Teknologi kecerdasan buatan (AI) digunakan sebagai pendamping kesehatan virtual yang bekerja bersama tim medis di lokasi kegiatan.
Baca Juga “Teknologi Kesehatan Didorong Lebih Terjangkau untuk Masyarakat“
RHE-NU, bagian dari Rhemedi Medical Intelligence Assistant (RHE-INA) yang dikembangkan Rhemedi Medical Services, terintegrasi dengan dukungan layanan kesehatan selama Muktamar.
Pelaksanaan layanan tersebut berjalan bersama jejaring medis di lokasi kegiatan. Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama dan Tim Kesehatan Muktamar ke-35 NU mengoordinasikan pelayanan kesehatan peserta.
RHE-NU Berikan Akses Awal bagi Peserta
RHE-NU dirancang sebagai layanan kesehatan awal yang dapat diakses peserta melalui perangkat masing-masing. Peserta dapat menyampaikan keluhan kesehatan tanpa harus langsung mendatangi pos kesehatan.
Sistem tersebut memberikan informasi awal berdasarkan keluhan yang disampaikan pengguna. Peserta juga dapat memperoleh informasi mengenai lokasi pos kesehatan terdekat.
Apabila membutuhkan konsultasi lebih lanjut, peserta dapat mengakses jalur komunikasi dengan dokter yang bertugas. Dengan demikian, teknologi membantu peserta menentukan langkah berikutnya dalam memperoleh pelayanan kesehatan.
Keluhan Kesehatan Peserta Ditindaklanjuti Tim Medis
Selama pelaksanaan Muktamar, peserta menyampaikan sejumlah keluhan melalui layanan virtual tersebut. Keluhan yang muncul antara lain pusing, batuk dan pilek, serta luka lepuh.
RHE-NU berfungsi sebagai pintu awal untuk membantu peserta memahami langkah pelayanan berikutnya. Ketika kondisi membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut, peserta diarahkan kepada tenaga kesehatan di lokasi.
Untuk kondisi kegawatdaruratan, pos kesehatan dan tenaga medis tetap menjadi jalur utama. Teknologi tidak mengambil alih pemeriksaan langsung atau penanganan medis yang membutuhkan intervensi tenaga profesional.
Model Hybrid Gabungkan Teknologi dan Tenaga Medis
Pemanfaatan RHE-NU selama Muktamar memperlihatkan konsep hybrid healthcare support. Model tersebut menggabungkan akses digital dengan pelayanan medis secara langsung di lapangan.
Teknologi membantu memperluas akses awal dan navigasi pelayanan. Sementara itu, dokter dan tenaga kesehatan tetap menangani pemeriksaan fisik, keputusan klinis, terapi, serta rujukan.
Pembagian peran tersebut penting dalam penerapan AI di bidang kesehatan. Teknologi dapat membantu memberikan informasi dan mengarahkan pengguna, tetapi keputusan medis tetap membutuhkan kewenangan tenaga kesehatan.
Fitur Bantuan Cepat Permudah Akses Pos Kesehatan
Selain menyediakan konsultasi awal, RHE-NU memiliki fitur Bantuan Cepat. Fitur tersebut membantu peserta menemukan lokasi pos kesehatan melalui Google Maps.
Peserta juga dapat menemukan kanal komunikasi berupa WhatsApp atau nomor telepon dokter yang tersedia selama kegiatan. Fitur ini dirancang untuk mempersingkat proses pencarian bantuan medis di tengah kegiatan yang melibatkan banyak peserta.
Akses terhadap informasi lokasi dan kontak tenaga medis menjadi penting dalam kegiatan berskala besar. Peserta dapat mengetahui pilihan layanan yang tersedia tanpa harus mencari informasi secara manual.
AI Berpotensi Membantu Penyaringan Awal Keluhan
Wakil Koordinator Tim Kesehatan Muktamar NU ke-35, dr. Rheza Maulana, SpRad, mengatakan teknologi AI dapat mendukung penyaringan awal keluhan peserta.
Menurutnya, teknologi tersebut juga dapat menjadi sarana edukasi dan penyedia informasi kesehatan. Namun, penerapan AI tetap perlu menempatkan tenaga medis sebagai pihak yang mengambil keputusan klinis.
“Model ini menunjukkan salah satu kemungkinan penggunaan kecerdasan buatan dalam kegiatan dengan jumlah peserta besar,” ujar Rheza.
Ia menjelaskan bahwa AI dapat berperan sebagai lapisan pendamping antara kebutuhan kesehatan peserta dan pelayanan medis di lapangan.
Keputusan Klinis Tetap Menjadi Kewenangan Tenaga Kesehatan
Rheza menegaskan bahwa AI tidak menggantikan dokter dalam pelayanan kesehatan. Pemeriksaan fisik, terapi, keputusan klinis, dan rujukan tetap berada di bawah kewenangan tenaga kesehatan.
“Keputusan klinis, pemeriksaan fisik, terapi, dan rujukan tetap berada di bawah kewenangan tenaga kesehatan,” katanya.
Prinsip tersebut menjadi aspek penting dalam penerapan teknologi AI pada layanan kesehatan. Teknologi seharusnya membantu tenaga kesehatan dan pasien, bukan menggantikan proses klinis yang membutuhkan kompetensi profesional.
Pendekatan ini juga membantu menjaga batas antara informasi kesehatan awal dan diagnosis medis. Peserta tetap diarahkan memperoleh pemeriksaan langsung ketika kondisi membutuhkan evaluasi tenaga kesehatan.
Muktamar Jadi Ruang Uji Pemanfaatan Teknologi Kesehatan
Penggunaan RHE-NU dalam Muktamar ke-35 NU memberikan pengalaman penerapan teknologi kesehatan dalam kegiatan dengan jumlah peserta besar. Sistem digital dapat menjadi salah satu sarana untuk membantu peserta mengakses informasi dan layanan secara lebih cepat.
Namun, efektivitas penerapan teknologi kesehatan perlu dievaluasi secara menyeluruh. Aspek keamanan, akurasi informasi, perlindungan data, kesiapan tenaga medis, dan pengalaman pengguna menjadi bagian penting dalam evaluasi.
Evaluasi juga diperlukan untuk menentukan situasi pelayanan yang paling sesuai dengan dukungan AI. Setiap penggunaan teknologi kesehatan harus mempertimbangkan risiko serta kebutuhan pengguna.
Evaluasi Dapat Perkuat Layanan Kesehatan Digital
Implementasi RHE-NU selama Muktamar dapat menjadi bahan pembelajaran bagi pengembangan layanan kesehatan digital pada kegiatan berskala besar.
Model hybrid healthcare support memiliki peluang untuk membantu menghubungkan peserta dengan informasi kesehatan dan tenaga medis. Teknologi juga dapat mendukung navigasi layanan ketika lokasi kegiatan tersebar dan jumlah peserta sangat besar.
Ke depan, pengembangan layanan serupa perlu mengutamakan keamanan, akuntabilitas, dan kebutuhan manusia. Kolaborasi antara pengembang teknologi, tenaga kesehatan, dan penyelenggara kegiatan menjadi kunci agar inovasi dapat diterapkan secara bertanggung jawab.
Pemanfaatan AI dalam layanan kesehatan pada akhirnya bukan sekadar persoalan teknologi. Nilai utamanya terletak pada kemampuan teknologi membantu manusia memperoleh akses layanan yang tepat, sementara keputusan medis tetap berada di tangan tenaga kesehatan.