Dokter Jiwa Ingatkan Risiko Terlalu Sering Curhat ke ChatGPT dan Chatbot AI
Pemanfaatan chatbot berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) seperti ChatGPT semakin meluas dalam kehidupan sehari-hari. Selain membantu mencari informasi, menyusun dokumen, hingga belajar, sebagian pengguna kini memanfaatkannya sebagai tempat berbagi cerita, mencurahkan perasaan, bahkan meminta pendapat mengenai kondisi emosional yang sedang dialami.
Fenomena tersebut banyak ditemukan pada remaja dan dewasa muda yang merasa lebih nyaman berbicara dengan chatbot dibandingkan orang lain. Meski teknologi AI dapat menjadi alat bantu yang bermanfaat, para ahli kesehatan jiwa mengingatkan bahwa ketergantungan berlebihan terhadap chatbot untuk memperoleh dukungan emosional dapat menimbulkan sejumlah risiko bagi kesehatan mental.
Baca Juga “Para ahli: Agar AI efektif dalam perawatan kesehatan, AI harus dimulai dengan data.“
Sejumlah psikiater dan psikolog menilai AI sebaiknya digunakan sebagai pendamping, bukan pengganti hubungan sosial maupun layanan profesional. Dukungan emosional dari keluarga, teman, dan tenaga kesehatan mental tetap memiliki peran yang tidak dapat digantikan oleh teknologi.
Tren Curhat ke ChatGPT Meningkat di Kalangan Remaja dan Dewasa Muda
Psikiater Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia sekaligus RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, dr. Krisiana Siste, mengungkapkan bahwa penggunaan chatbot AI di kalangan Generasi Z dan Generasi Alpha semakin meningkat, termasuk untuk membahas persoalan psikologis.
Menurutnya, tidak sedikit anak muda yang menggunakan AI untuk menanyakan karakter kepribadian, kondisi psikologis, hingga dugaan gangguan mental yang mereka rasakan. Dalam praktiknya, sebagian pengguna juga menjadikan chatbot sebagai tempat bercerita ketika merasa kesepian atau kesulitan memperoleh dukungan dari lingkungan sekitar.
Kondisi tersebut menunjukkan adanya perubahan pola komunikasi, terutama ketika interaksi dalam keluarga atau lingkungan sosial mulai berkurang. Akibatnya, sebagian orang merasa lebih mudah mengungkapkan perasaan kepada chatbot karena dinilai tidak menghakimi dan selalu tersedia.
Fenomena serupa juga terlihat dalam survei Chatbots and Mental Health yang dilakukan American Psychological Association (APA) pada 2026. Dari sekitar 1.200 psikolog berlisensi di Amerika Serikat yang menjadi responden, sebanyak 77 persen mengaku pernah menangani pasien yang menggunakan AI sebagai salah satu sumber dukungan emosional maupun pelengkap terapi.
Hasil survei tersebut menunjukkan bahwa chatbot mulai menjadi bagian dari cara sebagian masyarakat mengelola kesehatan mental. Namun, para ahli menegaskan bahwa teknologi tersebut tidak dirancang untuk menggantikan proses asesmen maupun terapi psikologis yang dilakukan tenaga profesional.
AI Dapat Membantu, Tetapi Memiliki Batasan
Psikolog klinis Ghina Sakinah Safari menjelaskan bahwa penggunaan chatbot untuk mencurahkan pikiran tidak selalu berdampak negatif. Dalam kondisi tertentu, AI dapat dimanfaatkan sebagai media awal untuk membantu seseorang mengenali emosi atau menyusun jurnal pribadi.
Menurutnya, chatbot juga dapat digunakan sebagai alat bantu berpikir ketika seseorang sedang mencoba memahami situasi yang dihadapi. Namun, manfaat tersebut hanya berlaku apabila pengguna tetap menyadari bahwa AI bukanlah pengganti interaksi manusia maupun layanan kesehatan mental.
Pandangan serupa disampaikan Prof. Ridi Ferdiana dari Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada. Ia menilai tidak ada yang salah ketika seseorang menggunakan AI untuk berdiskusi atau menuangkan isi pikiran.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa respons AI dibentuk berdasarkan informasi yang diberikan pengguna. Karena itu, kualitas jawaban chatbot sangat bergantung pada konteks dan data yang dimasukkan.
Prof. Ridi mengibaratkan AI seperti obat yang memberikan manfaat apabila digunakan secara tepat. Sebaliknya, penggunaan yang berlebihan berpotensi menimbulkan dampak negatif apabila membuat seseorang kehilangan kemampuan mengambil keputusan secara mandiri.
Ia menyarankan agar masyarakat membatasi penggunaan AI sebagaimana membatasi waktu penggunaan gawai. Dengan demikian, chatbot tetap menjadi alat pendukung, bukan pusat ketergantungan emosional.
Risiko Terlalu Sering Curhat ke Chatbot AI
Para ahli menilai penggunaan AI untuk dukungan emosional perlu diimbangi dengan kesadaran terhadap sejumlah risiko yang mungkin muncul apabila dilakukan secara berlebihan.
Ketergantungan Dapat Mengurangi Interaksi Sosial
Salah satu dampak yang paling sering dikhawatirkan adalah berkurangnya interaksi dengan orang lain. Ketika seseorang merasa lebih nyaman berbicara dengan chatbot dibandingkan keluarga, teman, atau tenaga profesional, hubungan sosial dapat perlahan melemah.
Dr. Krisiana Siste menekankan bahwa AI sebaiknya menjadi alat pendukung komunikasi, bukan pengganti hubungan antarmanusia. Ia juga mendorong orang tua untuk memahami perkembangan teknologi agar dapat mendampingi anak menggunakan AI secara sehat.
Menurutnya, keterlibatan keluarga penting agar komunikasi di rumah tetap terjaga dan anak tidak sepenuhnya bergantung pada chatbot untuk memperoleh dukungan emosional.
Muncul Distres Emosional dan Ilusi Relasi
Psikolog Ghina Sakinah Safari menjelaskan bahwa ketergantungan terhadap chatbot dapat berkembang menjadi kondisi yang kurang sehat apabila seseorang mengalami kecemasan ketika tidak dapat mengakses AI.
Dalam beberapa kasus, pengguna juga dapat membentuk ilusi relasi dengan chatbot. Mereka mulai menganggap AI sebagai teman paling memahami dirinya, bahkan merasa tidak lagi membutuhkan dukungan dari manusia.
Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan isolasi emosional karena hubungan sosial nyata semakin berkurang. Padahal, proses pemulihan kesehatan mental umumnya membutuhkan interaksi yang autentik dengan lingkungan sekitar.
Risiko Informasi yang Tidak Tepat
Bahaya lain yang perlu diperhatikan adalah kecenderungan sebagian orang menggunakan AI untuk mendiagnosis kondisi psikologisnya sendiri. Para ahli mengingatkan bahwa chatbot tidak memiliki kemampuan melakukan diagnosis medis maupun psikologis secara komprehensif.
Menurut dr. Krisiana Siste, hasil yang diberikan AI dapat keliru atau tidak sesuai dengan kondisi individu karena tidak melalui proses pemeriksaan profesional. Gejala yang tampak serupa belum tentu memiliki penyebab yang sama.
Psikolog Ghina juga mengingatkan bahwa informasi dari chatbot dapat menyesatkan apabila dijadikan dasar melakukan penanganan mandiri tanpa konsultasi kepada tenaga kesehatan mental.
Ia menambahkan bahwa pengguna tetap perlu berhati-hati saat berinteraksi dengan AI dan menghindari membagikan informasi pribadi yang sangat sensitif.
Kasus Internasional Menjadi Pengingat Penting
American Psychological Association juga menyoroti pentingnya sistem keamanan pada chatbot AI. Organisasi tersebut mengingatkan bahwa teknologi yang belum memiliki perlindungan memadai dapat menimbulkan risiko bagi pengguna yang sedang berada dalam kondisi emosional rentan.
Salah satu kasus yang banyak menjadi perhatian terjadi di Amerika Serikat pada 2024, ketika seorang remaja berusia 14 tahun meninggal dunia akibat bunuh diri setelah berinteraksi dengan sebuah chatbot yang dinilai tidak memberikan respons yang aman terhadap pikiran bunuh diri.
Kasus tersebut menjadi pengingat bahwa AI belum dapat menggantikan penanganan krisis kesehatan mental yang memerlukan intervensi manusia. Dalam situasi darurat atau ketika seseorang mengalami tekanan psikologis berat, bantuan dari keluarga, psikolog, psikiater, atau layanan kesehatan tetap menjadi pilihan yang paling tepat.
Baca Juga “Samsung Klarifikasi Minta Data Kesehatan untuk Latih AI“