Mengenal Chatbot Lisa, Asisten AI untuk Pasien Ginjal

Chatbot Lisa Dikembangkan sebagai Asisten AI untuk Edukasi Pasien Penyakit Ginjal Kronis

Pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) terus berkembang di sektor kesehatan. Di Indonesia, Pusat Riset Sains Data dan Informasi (PRSDI) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah mengembangkan Chatbot Lisa sebagai asisten virtual yang membantu pasien penyakit ginjal kronis, khususnya mereka yang menjalani terapi hemodialisis.

Pengembangan teknologi ini berangkat dari tingginya jumlah pasien hemodialisis di Indonesia yang telah mencapai lebih dari 134 ribu orang pada 2024. Kebutuhan akan informasi kesehatan yang mudah diakses semakin meningkat, sementara tenaga medis memiliki keterbatasan waktu untuk memberikan edukasi secara personal kepada setiap pasien.

Perekayasa PRSDI BRIN, Elvira Nurfadhilah, menjelaskan bahwa Chatbot Lisa hadir sebagai solusi edukasi digital yang menyediakan informasi kesehatan berbasis bukti ilmiah dan sumber medis terpercaya.

“Chatbot Lisa dikembangkan untuk memberikan informasi yang akurat, mudah diakses, serta berbasis bukti klinis bagi pasien hemodialisis,” ujar Elvira.

baca juga”Tips Menikmati Alam untuk Menjaga Kesehatan Mental

Teknologi LLM dan RAG Membuat Jawaban Chatbot Lebih Terverifikasi

Chatbot Lisa pertama kali dikembangkan pada 2021 sebagai sistem berbasis aturan atau rule-based system. Seiring kemajuan teknologi kecerdasan buatan, sistem tersebut kemudian diperbarui menjadi Chatbot Lisa versi 2.0 dengan mengadopsi teknologi Large Language Models (LLM) dan Retrieval-Augmented Generation (RAG).

Teknologi RAG memungkinkan chatbot mengambil informasi dari basis pengetahuan yang telah divalidasi sebelum memberikan jawaban kepada pengguna. Pendekatan ini membantu mengurangi risiko munculnya informasi yang keliru atau fenomena halusinasi AI.

Setiap respons yang dihasilkan Chatbot Lisa juga dapat ditelusuri kembali ke sumber referensi aslinya. Transparansi sumber informasi menjadi aspek penting agar teknologi AI di bidang kesehatan tetap aman dan dapat dipercaya oleh pasien maupun tenaga medis.

Pengembangan Chatbot Melibatkan Dokter dan Ahli Nefrologi

Untuk memastikan kualitas informasi, PRSDI BRIN bekerja sama dengan RSUD Bakti Pajajaran Kabupaten Bogor dan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Proses pengembangan juga melibatkan dokter spesialis penyakit dalam, ahli nefrologi, serta peneliti kesehatan.

Sepanjang 2026, tim peneliti telah mencapai berbagai perkembangan, mulai dari pelaksanaan diskusi kelompok terarah atau focus group discussion (FGD), memperoleh persetujuan etik penelitian, hingga mengembangkan perangkat lunak RAGLab v1.0 yang telah diajukan hak kekayaan intelektualnya.

Tim peneliti juga menyusun publikasi ilmiah berupa book chapter yang membahas keamanan dan keandalan chatbot medis berbasis teknologi LLM sebagai bagian dari pengembangan standar penggunaan AI di bidang kesehatan.

Tiga Fokus Penelitian untuk Meningkatkan Keamanan Chatbot Lisa

Penelitian Chatbot Lisa pada 2026 berfokus pada tiga aspek utama, yaitu pengembangan chatbot berbasis LLM dan RAG dengan jawaban terverifikasi, pembangunan sistem validasi yang melibatkan pakar klinis, serta evaluasi teknologi berdasarkan standar kesehatan yang berlaku.

Pengembangan tersebut dimulai dengan pengumpulan data dari berbagai referensi medis tepercaya, termasuk pedoman Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI), Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK), KDIGO, KDOQI, regulasi Kementerian Kesehatan, serta berbagai publikasi ilmiah terkait hemodialisis.

Tahap berikutnya melibatkan pemrosesan data, pembuatan basis data vektor, integrasi model LLM, dan evaluasi melalui pendekatan human-in-the-loop. Dengan metode ini, tenaga medis dapat terus memantau dan menyempurnakan kualitas jawaban yang diberikan chatbot.

Chatbot Lisa Hadir sebagai Pendamping Edukasi, Bukan Pengganti Dokter

BRIN menegaskan bahwa Chatbot Lisa tidak dibuat untuk menggantikan peran dokter maupun perawat dalam menangani pasien. Teknologi ini berfungsi sebagai pendamping edukasi yang membantu pasien memperoleh informasi kesehatan secara cepat, mudah dipahami, dan sesuai dengan sumber medis yang telah diverifikasi.

Ke depan, BRIN menargetkan pengembangan purwarupa Chatbot Lisa versi terbaru yang akan menjalani uji coba terbatas di rumah sakit mitra. Pengembangan ini diharapkan menjadi langkah nyata dalam pemanfaatan kecerdasan buatan untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan dan literasi medis masyarakat Indonesia.

baca juga”Dokter Ungkap Penyebab Serangan Jantung Kini Terjadi pada Usia Lebih Muda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *