AI Center Ubaya Disiapkan untuk Perkuat Layanan Kesehatan dan Riset Digital di Jawa Timur
Universitas Surabaya atau Ubaya menyiapkan AI Center sebagai pusat riset dan pengembangan teknologi artificial intelligence (AI) untuk mendukung transformasi layanan kesehatan di Jawa Timur. Fasilitas ini diproyeksikan menjadi pusat inovasi digital yang fokus pada pengembangan solusi berbasis AI untuk kebutuhan medis dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Baca Juga “Hue mempromosikan penerapan AI dalam perawatan kesehatan, mendorong pola pikir kerja digital.“
Pengembangan AI Center menjadi bagian dari upaya perguruan tinggi dalam memperkuat pemanfaatan teknologi digital di sektor kesehatan. Langkah tersebut juga sejalan dengan meningkatnya kebutuhan sistem layanan kesehatan yang lebih cepat, akurat, dan berbasis data.
Rencana pengembangan AI Center dibahas dalam audiensi antara Rektor Ubaya, Benny Lianto, dengan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jumat (22/5/2026).
Khofifah Dorong Pengembangan AI untuk Kesehatan dan SDM
Dalam pertemuan tersebut, Khofifah menyambut positif langkah Ubaya dalam mengembangkan teknologi AI di Jawa Timur. Menurut dia, pemanfaatan AI perlu terus diperluas untuk mendukung peningkatan kualitas layanan publik dan pengembangan sumber daya manusia.
“Semangat ini harus terus dilakukan. AI harus terus dikembangkan dan digunakan supaya semakin cerdas,” ujar Khofifah.
Ia menilai pengembangan teknologi digital menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan daya saing daerah di tengah percepatan transformasi global. Pemanfaatan AI di sektor kesehatan juga dinilai mampu membantu meningkatkan efisiensi layanan medis dan mempercepat proses diagnosis penyakit.
Dalam beberapa tahun terakhir, teknologi AI memang semakin banyak digunakan di bidang kesehatan. Mulai dari analisis data pasien, deteksi penyakit berbasis citra medis, hingga pengembangan sistem pendukung keputusan bagi tenaga medis.
AI Center Ubaya Fokus pada Riset Teknologi Kesehatan
Benny Lianto menjelaskan AI Center yang dikembangkan Ubaya tidak hanya berfungsi sebagai fasilitas akademik, tetapi juga diarahkan untuk menghasilkan inovasi yang dapat diterapkan langsung di masyarakat.
Menurut dia, pusat riset tersebut diproyeksikan menjadi salah satu pusat pengembangan AI unggulan di Jawa Timur, khususnya dalam bidang kesehatan dan teknologi terapan.
“AI Center ini semacam pusat riset unggulan yang kami upayakan menjadi pusat pengembangan AI di Jawa Timur sesuai harapan Ibu Gubernur untuk membawa Jawa Timur menjadi provinsi terdepan dalam pengembangan AI,” kata Benny.
Ia menambahkan pengembangan AI di Ubaya kini lebih fokus pada penyelesaian masalah nyata di lapangan. Pendekatan tersebut dilakukan agar hasil riset tidak berhenti pada tahap akademis, tetapi dapat dimanfaatkan secara langsung oleh masyarakat dan industri kesehatan.
Pengembangan AI untuk Diagnosis Penyakit dan Teknologi Medis
Ubaya telah mengembangkan sejumlah riset berbasis AI di bidang kesehatan. Salah satu proyek yang sedang dikembangkan adalah aplikasi AI untuk membantu mendeteksi kanker kulit melalui analisis data visual dan citra medis.
“Misalnya untuk mendeteksi kanker kulit, kami sedang mencoba mengembangkan aplikasi berbasis AI,” ujar Benny.
Selain aplikasi diagnosis penyakit, Ubaya juga mengembangkan teknologi implan gigi dan berbagai inovasi medis lain yang memanfaatkan teknologi digital.
Pemanfaatan AI dalam diagnosis penyakit dinilai mampu membantu tenaga medis meningkatkan akurasi pemeriksaan sekaligus mempercepat proses penanganan pasien. Teknologi ini juga berpotensi mendukung layanan kesehatan di daerah dengan keterbatasan tenaga spesialis.
Di tingkat global, penggunaan AI dalam dunia medis terus berkembang pesat. Banyak rumah sakit dan institusi kesehatan mulai memanfaatkan AI untuk membaca hasil radiologi, memprediksi risiko penyakit, hingga mendukung pengembangan obat dan terapi baru.
Didukung Fakultas Kedokteran dan Rumah Sakit Kampus
Benny mengatakan pengembangan AI kesehatan di Ubaya didukung oleh ekosistem pendidikan dan fasilitas medis yang lengkap. Kampus memiliki Fakultas Kedokteran, rumah sakit pendidikan, serta laboratorium yang mendukung riset teknologi kesehatan.
Ketersediaan fasilitas tersebut memungkinkan pengembangan teknologi AI dilakukan secara lebih terintegrasi. Peneliti dapat menguji dan mengembangkan inovasi medis dengan dukungan data dan kebutuhan layanan kesehatan secara langsung.
Ubaya juga membuka peluang kolaborasi dengan berbagai institusi kesehatan di Jawa Timur, termasuk RSUD Dr. Soetomo.
Kolaborasi tersebut dinilai penting agar hasil penelitian dapat diterapkan dalam sistem pelayanan kesehatan yang lebih luas. Selain itu, kerja sama dengan rumah sakit juga membantu proses validasi teknologi medis berbasis AI sebelum digunakan secara massal.
Kolaborasi Global Jadi Kunci Pengembangan Riset AI
Selain memperkuat riset internal, Ubaya juga terus menjalin kerja sama dengan berbagai institusi nasional dan internasional. Langkah ini dilakukan untuk mempercepat transfer teknologi dan memperluas penerapan hasil penelitian.
Menurut Benny, kolaborasi menjadi faktor penting dalam pengembangan AI karena teknologi terus berkembang dengan sangat cepat. Perguruan tinggi membutuhkan dukungan dari berbagai pihak agar inovasi yang dihasilkan tetap relevan dengan kebutuhan industri dan masyarakat.
Ia berharap AI Center dapat menjadi wadah kolaborasi lintas disiplin yang melibatkan akademisi, tenaga medis, industri teknologi, hingga pemerintah daerah.
“Harapannya banyak riset yang bisa dilaksanakan dengan memanfaatkan AI Center di Gedung Fakultas Teknik Ubaya,” ujarnya.
AI Diproyeksikan Perkuat Masa Depan Layanan Kesehatan Jawa Timur
Pengembangan AI Center menunjukkan semakin besarnya peran perguruan tinggi dalam mendukung transformasi digital di sektor kesehatan. Teknologi AI diperkirakan akan menjadi bagian penting dalam sistem layanan kesehatan masa depan karena mampu meningkatkan efisiensi dan kualitas pelayanan medis.
Bagi Jawa Timur, keberadaan pusat riset AI seperti yang dikembangkan Ubaya dapat menjadi modal penting untuk memperkuat ekosistem inovasi daerah. Selain mendukung riset kesehatan, AI juga berpotensi dimanfaatkan untuk pendidikan, industri, hingga pelayanan publik lainnya.
Di tengah perkembangan teknologi global yang semakin cepat, kolaborasi antara dunia pendidikan, pemerintah, dan sektor kesehatan dinilai menjadi kunci agar pemanfaatan AI dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas.
Baca Juga “Mahasiswa UNM Bikin AI Kesehatan Dunia Siap, Tertinggal Kalau Masih Manual“