Fenomena Masuk Angin Menarik Perhatian Ahli Kesehatan Mental di Konferensi Internasional
Istilah “masuk angin” yang selama ini dikenal luas di Indonesia ternyata menjadi bahan diskusi menarik di kalangan ahli kesehatan mental dunia. Fenomena tersebut dibahas dalam 13th Annual Scientific Conference of the European Association for Psychosomatic Medicine (EAPM) 2026 yang berlangsung di Florence, Italia.
Topik ini mendapat perhatian karena dianggap mencerminkan hubungan erat antara budaya, kesehatan mental, dan cara seseorang memahami gejala penyakit. Para pakar menilai bahwa istilah seperti “masuk angin” tidak sekadar menggambarkan kondisi fisik, tetapi juga dapat menjadi cara masyarakat mengekspresikan tekanan psikologis atau emosional.
baca juga”Pakar Beberkan Alasan Obesitas Picu Diabetes“
Psikiater Indonesia Paparkan Kaitan Gejala Fisik dan Kecemasan
Pembahasan mengenai fenomena tersebut disampaikan oleh psikiater Indonesia, dr. Andri, SpKJ, FAPM, dari EMC Hospital Alam Sutera. Dalam sesi Clinical Case Presentations 2, ia mempresentasikan pengalaman klinis terkait hubungan antara kecemasan, gangguan psikologis, dan keluhan fisik yang sering ditemukan pada pasien di Indonesia.
Melalui presentasi berjudul “Cultural Somatization and Health Anxiety in Indonesia: A Clinical Case Experience of Multisystem Psychosomatic Presentations in an Asian Population”, Andri menjelaskan bahwa banyak pasien datang ke fasilitas kesehatan dengan keluhan fisik tanpa menyadari adanya faktor psikologis yang mendasari kondisi tersebut.
Keluhan yang sering muncul meliputi sensasi mengganjal di tenggorokan, nyeri dada, jantung berdebar, pusing, hingga gangguan pencernaan. Dalam banyak kasus, pasien lebih mudah mengaitkan gejala tersebut dengan kondisi yang dikenal secara budaya dibandingkan menghubungkannya dengan kecemasan atau stres.
Menurut Andri, pasien di Indonesia jarang menyampaikan secara langsung bahwa mereka sedang mengalami kecemasan. Sebaliknya, mereka lebih sering menggunakan istilah seperti “masuk angin”, “asam lambung naik ke kepala”, atau gangguan fisik lain yang dianggap lebih mudah dipahami dalam konteks budaya setempat.
Ia menegaskan bahwa gejala yang dirasakan pasien bersifat nyata. Namun, cara mereka menafsirkan dan menjelaskan gejala tersebut sangat dipengaruhi oleh latar belakang budaya dan pengalaman sosial yang dimiliki.
Konsep Idioms of Distress Jadi Sorotan Para Pakar
Penjelasan tersebut memicu diskusi yang luas di antara peserta konferensi dari berbagai negara. Sejumlah ahli menilai istilah khas Indonesia seperti “masuk angin” dapat dikategorikan sebagai idioms of distress, yaitu cara suatu kelompok budaya mengungkapkan tekanan emosional atau psikologis melalui bahasa dan keluhan fisik yang lebih mudah diterima masyarakat.
Dalam ilmu kesehatan mental dan psikosomatik, konsep ini telah lama digunakan untuk menjelaskan mengapa gejala psikologis dapat muncul dalam bentuk keluhan fisik yang berbeda-beda di setiap budaya. Fenomena serupa juga ditemukan di berbagai negara Asia, Amerika Latin, hingga Timur Tengah.
Para peserta menilai pemahaman terhadap konteks budaya sangat penting agar tenaga kesehatan tidak hanya berfokus pada gejala fisik, tetapi juga mempertimbangkan faktor psikologis yang mungkin memengaruhi kondisi pasien.
Pakar Internasional Temukan Pola Serupa pada Pasien Asia
Gejala Fisik Kerap Menjadi Cara Mengungkapkan Tekanan Emosional
Diskusi semakin berkembang ketika peserta dari Amerika Serikat, Jerman, Israel, dan beberapa negara Eropa membandingkan temuan tersebut dengan pengalaman klinis mereka. Banyak di antara mereka mengaku sering menemukan pola yang sama pada pasien keturunan Asia yang tinggal di negara-negara Barat.
Menurut para pakar, pasien Asia cenderung lebih nyaman mengungkapkan ketidaknyamanan melalui gejala fisik dibandingkan menyampaikan kecemasan atau tekanan emosional secara langsung. Keluhan pada sistem pencernaan, nyeri tubuh, gangguan kardiovaskular, serta sensasi tidak nyaman di berbagai bagian tubuh sering menjadi keluhan awal yang muncul.
Andri menyampaikan bahwa sejumlah kolega internasional mengakui pola tersebut tetap terlihat bahkan pada pasien Asia yang telah lama menetap di Eropa atau Amerika Serikat. Temuan itu menunjukkan bahwa faktor budaya dapat terus memengaruhi cara seseorang memahami dan mengomunikasikan kondisi kesehatannya.
Pendekatan Sensitif Budaya Dinilai Semakin Penting
Para peserta konferensi sepakat bahwa pendekatan yang sensitif terhadap budaya menjadi kebutuhan penting dalam praktik kesehatan mental modern. Pemahaman mengenai cara pasien menjelaskan penyakitnya atau explanatory model dinilai dapat membantu tenaga kesehatan membangun komunikasi yang lebih efektif.
Pendekatan tersebut juga memungkinkan dokter dan tenaga kesehatan mengidentifikasi faktor psikologis yang mungkin tersembunyi di balik keluhan fisik. Dengan demikian, proses diagnosis dan terapi dapat berjalan lebih tepat serta sesuai dengan kebutuhan pasien.
Fenomena masuk angin yang dibahas dalam forum internasional ini menunjukkan bahwa kesehatan mental tidak dapat dipisahkan dari konteks budaya. Cara masyarakat menafsirkan gejala dan penyakit memiliki pengaruh besar terhadap perilaku mencari pengobatan serta respons terhadap terapi. Ke depan, integrasi pemahaman budaya dalam layanan kesehatan diharapkan mampu meningkatkan kualitas perawatan dan membantu lebih banyak pasien memperoleh penanganan yang tepat.