Cakupan Imunisasi Nasional Capai 80,2%, Kemenkes Fokus Kejar 960 Ribu Anak Zero-Dose
Dampak Pandemi dan Upaya Pemulihan Program Imunisasi Nasional
Cakupan imunisasi dasar di Indonesia menunjukkan pemulihan setelah sempat menurun akibat pandemi COVID-19. Data terbaru menunjukkan cakupan imunisasi mencapai 80,2 persen pada 2025. Meski demikian, masih terdapat sekitar 960 ribu anak yang belum menerima imunisasi sama sekali atau tergolong zero-dose.
Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menilai kondisi ini sebagai tantangan serius dalam menjaga ketahanan kesehatan masyarakat. Kelompok anak zero-dose berisiko tinggi terpapar penyakit menular yang sebenarnya dapat dicegah melalui vaksinasi.
Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit, Andi Saguni, menegaskan bahwa pemulihan cakupan imunisasi menjadi prioritas nasional pascapandemi.
baca juga”Tips Makan Sehat Mahasiswa Murah dan Tetap Bergizi“
“Cakupan imunisasi sempat turun selama pandemi. Kini kami fokus mengejar ketertinggalan agar perlindungan anak kembali optimal,” ujarnya dalam kegiatan Pekan Imunisasi Dunia di Depok.
Ia menekankan bahwa imunisasi rutin merupakan langkah utama dalam mencegah munculnya kembali penyakit seperti campak, difteri, dan pertusis.
Risiko Kesehatan Jika Cakupan Imunisasi Tidak Optimal
Penurunan cakupan imunisasi dapat membuka peluang terjadinya kejadian luar biasa (KLB) penyakit menular. Penyakit seperti campak dan difteri dapat menyebar dengan cepat jika kekebalan kelompok tidak tercapai.
Menurut para ahli kesehatan, ambang batas herd immunity untuk beberapa penyakit membutuhkan cakupan imunisasi di atas 90 persen. Dengan capaian 80,2 persen, Indonesia masih perlu meningkatkan cakupan untuk mencapai perlindungan maksimal.
Kelompok zero-dose menjadi perhatian utama karena mereka belum memiliki perlindungan dasar sama sekali. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada sistem kesehatan secara keseluruhan.
Ketersediaan Vaksin dan Strategi Pemerintah
Pemerintah memastikan pasokan vaksin dalam kondisi aman dan mencukupi. Andi Saguni menyebut bahwa stok vaksin, khususnya untuk campak, tersedia hingga sembilan bulan ke depan.
Selain itu, pemerintah telah menyiapkan pengadaan tambahan vaksin pada paruh kedua 2026 untuk menjaga kesinambungan program imunisasi. Langkah ini bertujuan menghindari kekosongan pasokan yang dapat menghambat program.
Kemenkes juga memperkuat distribusi vaksin hingga ke wilayah terpencil. Pendekatan berbasis wilayah dilakukan untuk menjangkau anak-anak yang belum mendapatkan layanan imunisasi.
Program imunisasi kejar (catch-up) juga terus digencarkan untuk mengejar anak-anak yang tertinggal selama pandemi.
Peran UNICEF dan Inisiatif Global
Perwakilan UNICEF Indonesia, Jean Lokenga, menekankan bahwa imunisasi merupakan hak dasar setiap anak yang harus dipenuhi tanpa terkecuali.
Ia menyebut bahwa melalui program global seperti “The Big Catch-Up”, lebih dari 100 juta dosis vaksin telah didistribusikan di 36 negara. Program ini menunjukkan bahwa peningkatan cakupan imunisasi dapat dicapai dengan komitmen yang kuat.
Namun, ia mengingatkan bahwa kampanye berskala besar tidak dapat menggantikan sistem imunisasi rutin yang berkelanjutan. Sistem layanan kesehatan harus tetap menjadi fondasi utama.
Imunisasi sebagai Investasi Kesehatan Jangka Panjang
Perwakilan World Health Organization Indonesia, Olivia, menegaskan bahwa imunisasi merupakan salah satu intervensi kesehatan paling efektif dan efisien.
“Vaksin telah menyelamatkan lebih dari 150 juta jiwa di seluruh dunia. Ini adalah investasi kesehatan yang sangat bernilai,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi langkah Indonesia yang aktif memperingati Pekan Imunisasi Dunia. Kegiatan ini dinilai mampu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya vaksinasi.
Namun, tantangan utama tetap pada peningkatan kepercayaan masyarakat terhadap vaksin serta menjangkau kelompok yang belum terlayani.
Tantangan di Lapangan dan Upaya Edukasi
Selain faktor akses, faktor kepercayaan masyarakat juga menjadi tantangan dalam meningkatkan cakupan imunisasi. Informasi yang tidak akurat mengenai vaksin masih memengaruhi keputusan sebagian orang tua.
Oleh karena itu, edukasi berbasis bukti ilmiah menjadi sangat penting. Tenaga kesehatan dan pemerintah perlu aktif memberikan informasi yang benar dan mudah dipahami masyarakat.
Pendekatan berbasis komunitas juga dinilai efektif untuk meningkatkan partisipasi masyarakat. Keterlibatan tokoh lokal dan tenaga kesehatan di tingkat daerah dapat memperkuat program imunisasi.
Penutup: Target Perlindungan Anak Harus Dicapai
Dengan masih adanya sekitar 960 ribu anak zero-dose, pemerintah menghadapi tantangan besar dalam memastikan perlindungan kesehatan anak secara merata. Peningkatan cakupan imunisasi menjadi prioritas untuk mencegah risiko wabah penyakit.
Kolaborasi antara pemerintah, organisasi internasional, tenaga kesehatan, dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan program ini. Upaya bersama diperlukan agar tidak ada anak yang tertinggal dari perlindungan imunisasi.
Ke depan, penguatan sistem imunisasi rutin, peningkatan edukasi, serta pemerataan akses layanan akan menjadi faktor penting dalam mencapai target kesehatan nasional yang berkelanjutan.
baca juga”Hoaks Bikin Orang Takut Imunisasi, Begini Cara Kemenkes Memeranginya“