Telehealth dan AI Perluas Akses Layanan Kesehatan

Telehealth dan AI

Telehealth dan AI Didorong Perluas Akses Layanan Kesehatan
Telehealth dan kecerdasan buatan atau AI dinilai dapat membantu memperluas akses layanan kesehatan di Indonesia. Teknologi tersebut berpotensi melengkapi kapasitas tenaga kesehatan, terutama di daerah yang menghadapi keterbatasan fasilitas dan tenaga medis.

Tantangan geografis Indonesia turut memengaruhi pemerataan layanan kesehatan. Konsentrasi tenaga kesehatan di wilayah perkotaan dan Pulau Jawa membuat sejumlah daerah lain masih menghadapi keterbatasan akses terhadap layanan medis.

Peluang pemanfaatan teknologi kesehatan menjadi salah satu pembahasan dalam forum “Healthier Futures, Sooner: How Technology Closes the Gap in Care” di Jakarta. Forum tersebut mempertemukan peneliti, klinisi, dan pemimpin sektor kesehatan dari Indonesia serta Australia.

Baca Juga “Dorong Smart Hospital di Indonesia, teraMedik Resmi Kembangkan Teknologi AI Untuk Ekosistem Kesehatan.

Teknologi Kesehatan Menjawab Tantangan Geografis Indonesia
Direktur RMIT Indonesia, Tantia Dian Permata Indah, mengatakan solusi kesehatan perlu mempertimbangkan kondisi nyata yang dihadapi masyarakat dan tenaga kesehatan di Indonesia.

“Prioritas layanan kesehatan Indonesia membutuhkan solusi yang tidak hanya inovatif, tetapi juga relevan dengan realitas yang dihadapi pasien dan tenaga kesehatan di Indonesia,” kata Tantia dalam keterangan tertulis.

Menurutnya, perkembangan teknologi dapat menjadi salah satu pendekatan untuk membantu mengatasi kesenjangan akses layanan kesehatan. Teknologi tersebut tetap perlu diterapkan sesuai kebutuhan sistem kesehatan dan kondisi pasien.

Kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau menjadi salah satu tantangan pemerataan layanan. Jarak antara pasien dan fasilitas kesehatan dapat menjadi hambatan ketika masyarakat membutuhkan konsultasi atau pemantauan secara berkala.

Telehealth Memungkinkan Konsultasi dari Jarak Jauh
Telehealth dapat membantu menghubungkan pasien dengan tenaga kesehatan tanpa mengharuskan keduanya berada di tempat yang sama. Model layanan ini dapat memberikan alternatif bagi masyarakat yang menghadapi kendala jarak atau mobilitas.

Pemantauan pasien dari jarak jauh juga dapat mendukung pengawasan kondisi kesehatan secara berkala. Teknologi tersebut berpotensi membantu tenaga kesehatan memperoleh informasi pasien tanpa selalu membutuhkan kunjungan langsung.

Meski demikian, telehealth bukan pengganti seluruh layanan tatap muka. Kondisi tertentu tetap membutuhkan pemeriksaan fisik, tindakan medis langsung, atau fasilitas kesehatan dengan peralatan yang memadai.

AI dan Wearable Dukung Pemantauan Kesehatan
Selain telehealth, forum tersebut membahas penggunaan AI, sensor wearable, biomarker, dan sistem kesehatan yang saling terhubung. Berbagai teknologi tersebut dapat mendukung proses pemantauan dan pengambilan keputusan dalam layanan kesehatan.

AI berpotensi membantu tenaga kesehatan menganalisis data dalam jumlah besar. Pemanfaatannya dapat diarahkan untuk mendukung deteksi lebih dini, pemantauan kondisi pasien, serta pencegahan dan rehabilitasi.

Perangkat wearable juga dapat mengumpulkan sejumlah data kesehatan secara berkala. Informasi tersebut berpotensi membantu tenaga kesehatan memantau perubahan kondisi pasien dari waktu ke waktu.

Namun, teknologi tetap membutuhkan pengawasan dan interpretasi tenaga kesehatan. Penggunaan AI dalam layanan medis harus mempertimbangkan akurasi, keamanan data, privasi pasien, serta kesesuaian dengan kebutuhan klinis.

Kolaborasi Peneliti dan Klinisi Dinilai Penting
Profesor Ross Vlahos dari RMIT University menekankan pentingnya kolaborasi antara peneliti, klinisi, dan organisasi layanan kesehatan. Kolaborasi sejak tahap awal dapat membantu memastikan inovasi benar-benar menjawab kebutuhan layanan.

“Riset menghasilkan nilai terbesar ketika manfaatnya menjangkau pasien dan meningkatkan praktik sehari-hari,” kata Ross Vlahos.

Menurut Ross, pengembangan teknologi kesehatan perlu memperhatikan penerapan dalam praktik nyata. Pendekatan tersebut dapat membantu memastikan solusi yang dikembangkan tetap aman dan efektif ketika digunakan oleh pasien maupun tenaga kesehatan.

Kolaborasi juga memungkinkan peneliti memahami persoalan klinis secara lebih langsung. Sebaliknya, tenaga kesehatan dapat memberikan masukan mengenai kebutuhan dan batasan penerapan teknologi di lapangan.

RMIT dan Mandaya Bahas Pengembangan Riset Kesehatan
Forum tersebut juga mempertemukan RMIT University dengan Mandaya Hospital Group. Kedua pihak membahas peluang pengembangan riset bersama dan penerapan hasil penelitian dalam praktik klinis.

Presiden Direktur Mandaya Hospital Group, Dr Ben Widaja, mengatakan kolaborasi antara kemampuan riset dan pengetahuan klinis dapat menghasilkan solusi yang lebih sesuai dengan kebutuhan Indonesia.

“Menggabungkan keahlian riset RMIT dengan pengetahuan klinis lokal Mandaya dapat membantu kami mengidentifikasi solusi yang relevan bagi Indonesia,” ujar Ben Widaja.

Kerja sama tersebut dapat mencakup riset bersama, penerapan hasil penelitian ke layanan klinis, pengembangan tenaga kesehatan, serta uji coba teknologi. Pendekatan tersebut membuka peluang untuk menguji manfaat teknologi sebelum diterapkan secara lebih luas.

Penerapan Teknologi Tetap Membutuhkan Tata Kelola
Penggunaan AI dan teknologi digital dalam kesehatan membutuhkan tata kelola yang kuat. Sistem harus melindungi data pasien dan memastikan informasi kesehatan digunakan sesuai tujuan yang telah ditetapkan.

Tenaga kesehatan juga tetap memiliki peran penting dalam proses pengambilan keputusan. AI sebaiknya ditempatkan sebagai alat pendukung, bukan pengganti pertimbangan profesional dalam menentukan tindakan medis.

Pengembangan teknologi juga perlu mempertimbangkan kesenjangan akses digital. Masyarakat di wilayah dengan keterbatasan konektivitas tetap membutuhkan alternatif layanan agar transformasi digital tidak menciptakan kesenjangan baru.

Teknologi Berpeluang Memperkuat Pemerataan Layanan
Pemanfaatan telehealth, AI, wearable, dan sistem kesehatan terhubung menawarkan peluang untuk memperluas jangkauan layanan kesehatan. Teknologi dapat membantu menghubungkan pasien dan tenaga kesehatan serta mendukung pemantauan kondisi secara berkelanjutan.

Namun, keberhasilan penerapannya tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi. Infrastruktur digital, kompetensi tenaga kesehatan, perlindungan data, regulasi, dan kebutuhan pasien juga harus menjadi bagian dari perencanaan.

Kolaborasi RMIT University dan Mandaya Hospital Group menjadi salah satu langkah untuk menghubungkan riset dengan kebutuhan klinis. Pengembangan tersebut diharapkan dapat menghasilkan solusi yang relevan dan dapat diterapkan secara bertanggung jawab.

Ke depan, pemanfaatan teknologi kesehatan di Indonesia perlu berorientasi pada kebutuhan pasien. Jika dikembangkan dengan tata kelola yang tepat, telehealth dan AI dapat menjadi pendukung penting dalam memperluas akses layanan tanpa mengabaikan kualitas dan keselamatan pasien.

Baca Juga “Teknologi AI Kesehatan Lengkapi Layanan Medis Onsite pada Muktamar ke-35 NU

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *