Zurich Life Mulai Terapkan AI untuk Asuransi Kesehatan secara Bertahap
PT Zurich Topas Life atau Zurich Life mulai memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) pada lini asuransi kesehatan. Penerapan teknologi tersebut dilakukan secara bertahap untuk meningkatkan efisiensi operasional dan mendukung kualitas layanan kepada nasabah.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut penggunaan AI di industri perasuransian terus berkembang. Teknologi tersebut dapat membantu perusahaan dalam underwriting, pengelolaan klaim, deteksi fraud, analisis data kesehatan, hingga layanan pelanggan.
Zurich Life memilih pendekatan terukur dalam menerapkan AI. Perusahaan masih menempatkan teknologi tersebut sebagai alat pendukung, sementara keputusan penting tetap melalui proses peninjauan manusia.
Zurich Life Gunakan AI untuk Proses Klaim Sederhana
Chief Operating Officer Zurich Life Dennis Anwar mengatakan perusahaan mulai menggunakan AI untuk mendukung efisiensi operasional. Salah satu penerapannya terdapat pada sejumlah proses klaim yang bersifat sederhana.
Meski demikian, Zurich Life belum menerapkan AI secara menyeluruh dalam proses klaim. Teknologi tersebut juga belum berfungsi sebagai pengambil keputusan akhir.
“Seluruh keputusan penting tetap melalui peninjauan dan validasi oleh tim yang berwenang untuk memastikan kualitas layanan, akurasi, dan kepatuhan terhadap regulasi,” ujar Dennis kepada Kontan, Selasa (11/8/2026).
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa Zurich Life masih mempertahankan pengawasan manusia dalam proses yang berkaitan langsung dengan nasabah. Perusahaan menilai mekanisme tersebut penting untuk menjaga akurasi sekaligus memenuhi ketentuan yang berlaku.
Baca Juga “Teknologi AI Google Cloud Pangkas Booking Dokter Gigi Jadi 15 Detik“
AI Masih Berperan sebagai Decision Support Tool
Dennis menjelaskan penerapan AI menjadi bagian dari transformasi digital Zurich Life. Perusahaan mengembangkan teknologi tersebut berdasarkan kebutuhan bisnis dan prioritas strategis.
Dalam praktiknya, AI berfungsi sebagai decision support tool. Sistem membantu proses analisis atau pekerjaan tertentu, tetapi keputusan akhir tetap berada pada tim yang memiliki kewenangan.
Model tersebut memungkinkan perusahaan memperoleh manfaat teknologi tanpa sepenuhnya menyerahkan keputusan kepada sistem otomatis. Pendekatan ini juga memberikan ruang bagi perusahaan untuk mengevaluasi efektivitas AI sebelum memperluas penggunaannya.
Investasi AI Disesuaikan dengan Prioritas Perusahaan
Zurich Life mengelola investasi teknologi secara hati-hati. Besaran investasi disesuaikan dengan skala implementasi, prioritas perusahaan, serta potensi manfaat dalam jangka panjang.
Dennis menyebut investasi teknologi secara umum dapat membutuhkan biaya signifikan. Karena itu, perusahaan berupaya memastikan setiap inisiatif teknologi menghasilkan manfaat yang jelas.
“Zurich Life berupaya mengoptimalkan biaya dengan memastikan setiap inisiatif memberikan nilai tambah yang jelas bagi nasabah maupun perusahaan,” kata Dennis.
Strategi tersebut menempatkan manfaat bagi nasabah sebagai salah satu pertimbangan dalam pengembangan teknologi. Efisiensi internal tetap menjadi sasaran, tetapi penerapan AI juga diarahkan untuk meningkatkan pengalaman layanan.
Kinerja Asuransi Kesehatan Tetap Terkendali
Dari sisi kinerja bisnis, Zurich Life mencatat Annual Premium Equivalent (APE) tumbuh 8% secara tahunan hingga Juni 2026. Dennis mengatakan rasio klaim pada lini asuransi kesehatan masih berada dalam kondisi terkendali.
Kinerja tersebut menjadi salah satu indikator yang diperhatikan perusahaan dalam mengembangkan bisnis kesehatan. Zurich Life selanjutnya akan melanjutkan pengembangan layanan klaim yang dinilai dapat memberikan manfaat tambahan bagi nasabah.
Penerapan AI dapat menjadi bagian dari strategi tersebut. Namun, efektivitas teknologi tetap perlu diukur berdasarkan kualitas layanan, ketepatan proses, efisiensi, dan kemampuan perusahaan mengelola risiko.
OJK Soroti Risiko Penggunaan AI di Asuransi
OJK melihat AI sebagai salah satu teknologi yang dapat mendorong transformasi industri perasuransian. Pemanfaatannya berpotensi meningkatkan efisiensi, produktivitas, serta kualitas layanan kepada konsumen.
Namun, OJK menekankan bahwa inovasi teknologi harus berjalan bersama tata kelola dan manajemen risiko yang memadai.
Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono mengatakan perusahaan perlu mengidentifikasi dan mengendalikan risiko penggunaan AI.
Risiko tersebut mencakup aspek operasional, keamanan siber, model, pelindungan data pribadi, serta potensi bias algoritma. Perusahaan perlu mengukur dan memantau risiko tersebut secara efektif.
Penggunaan AI Tetap Memerlukan Pengawasan Manusia
OJK juga menegaskan bahwa penggunaan AI tidak menghapus tanggung jawab direksi dan manajemen perusahaan. Setiap keputusan yang dihasilkan dengan bantuan teknologi tetap harus dapat dipertanggungjawabkan.
Ogi menilai keputusan berbasis AI perlu memenuhi prinsip transparansi dan keadilan. Perusahaan juga harus memastikan penerapan teknologi tidak menimbulkan kerugian bagi konsumen.
Prinsip kehati-hatian menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Perusahaan perlu menjaga keseimbangan antara inovasi, pengelolaan risiko, dan pelindungan konsumen.
Pendekatan ini menjadi semakin relevan ketika perusahaan mulai menggunakan AI pada proses yang berkaitan dengan data kesehatan. Informasi tersebut memiliki karakter sensitif sehingga membutuhkan pengelolaan dan perlindungan yang kuat.
AI Berpotensi Perluas Efisiensi Industri Asuransi
Penggunaan AI di sektor asuransi kesehatan berpotensi mempercepat berbagai proses administratif dan analitis. Teknologi juga dapat membantu perusahaan mengolah data serta memberikan respons layanan yang lebih efisien.
Namun, perluasan penggunaan AI membutuhkan kesiapan dari sisi teknologi, sumber daya manusia, tata kelola, dan keamanan data. Perusahaan juga perlu memastikan sistem yang digunakan mampu menghasilkan keputusan atau rekomendasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Bagi Zurich Life, penerapan secara bertahap memberikan ruang untuk mengevaluasi manfaat dan risiko sebelum memperluas cakupan teknologi.Sementara itu, dukungan OJK menunjukkan bahwa inovasi digital tetap perlu berjalan dalam kerangka prudensial.
Ke depan, perkembangan AI di industri perasuransian akan bergantung pada kemampuan perusahaan menggabungkan efisiensi teknologi dengan pengawasan manusia. Keseimbangan tersebut menjadi kunci agar transformasi digital meningkatkan layanan tanpa mengurangi perlindungan terhadap nasabah.
Baca Juga “Dobrak Keterbatasan Akses, UGM Kembangkan Teknologi Skrining Tuberkulosis untuk Wilayah 3T“