Potensi Kurkumin Kunyit dan Temulawak Dorong Pengembangan Industri Herbal Indonesia
Indonesia memiliki kekayaan tanaman herbal yang berpotensi besar untuk dikembangkan menjadi produk kesehatan bernilai tinggi. Salah satu senyawa unggulan yang mendapat perhatian adalah kurkumin pada kunyit dan temulawak yang dinilai memiliki berbagai manfaat biologis serta peluang besar di pasar herbal global.
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Taruna Ikrar, menyampaikan bahwa kandungan kurkumin dalam tanaman herbal Indonesia memiliki potensi untuk bersaing dengan produk herbal populer dari negara Asia Timur seperti ginseng dari Korea Selatan, Tiongkok, maupun Jepang.
Menurut Taruna, kurkumin dikenal memiliki sifat antioksidan yang membantu melindungi sel dari kerusakan akibat radikal bebas, serta sifat antiinflamasi yang berperan dalam mengurangi proses peradangan. Senyawa ini juga memiliki efek vasodilator yang dapat membantu memperlancar aliran darah.
baca juga”Mengenal Chatbot Lisa, Asisten AI untuk Pasien Ginjal“
Kurkumin Berpotensi Dikembangkan Menjadi Produk Kesehatan dan Kosmetik
Selain dimanfaatkan sebagai bahan jamu tradisional, kunyit dan temulawak memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi berbagai produk berbasis sains, termasuk obat herbal terstandar, suplemen, hingga produk kosmetik dan perawatan tubuh.
Taruna menilai Indonesia memiliki sumber daya hayati yang sangat besar, tetapi masih membutuhkan peningkatan dalam aspek penelitian, teknologi pengolahan, serta hilirisasi agar dapat memberikan nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Ia menjelaskan bahwa industri jamu nasional saat ini memiliki nilai ekonomi sekitar Rp1,2 triliun setiap tahun. Sementara itu, potensi pasar global di bidang wellness dan kesehatan diperkirakan dapat mencapai sekitar Rp350 triliun apabila kekayaan biodiversitas Indonesia dimanfaatkan secara optimal.
Ribuan Produk Jamu Telah Terdaftar, Namun Fitofarmaka Masih Terbatas
Data BPOM menunjukkan terdapat sekitar 22 ribu produk jamu yang telah memiliki Nomor Izin Edar (NIE). Meski jumlahnya besar, hanya sebagian kecil yang berhasil naik ke tingkat pembuktian ilmiah yang lebih tinggi.
Saat ini, sekitar 71 produk telah berstatus Obat Herbal Terstandar (OHT), sedangkan 21 produk telah mencapai kategori fitofarmaka. Produk pada tingkat ini memerlukan pembuktian ilmiah yang lebih ketat melalui berbagai tahapan penelitian.
Proses peningkatan status dari jamu menjadi OHT maupun fitofarmaka membutuhkan uji praklinis, uji stabilitas, penelitian bioavailabilitas, serta kajian ilmiah untuk memastikan keamanan dan manfaat produk.
Penelitian dan Hilirisasi Jadi Kunci Daya Saing Herbal Indonesia
Penguatan riset dan pengembangan teknologi menjadi langkah penting agar produk herbal Indonesia mampu bersaing di pasar internasional. Semakin kuat bukti ilmiah yang mendukung suatu produk herbal, semakin besar pula peluang peningkatan nilai ekonomi dan kepercayaan konsumen.
Ke depan, kolaborasi antara pemerintah, peneliti, industri, dan akademisi diperlukan untuk mempercepat transformasi kekayaan tanaman obat Indonesia menjadi produk kesehatan modern yang memiliki standar mutu tinggi. Dengan dukungan riset yang berkelanjutan, kurkumin dari kunyit dan temulawak berpotensi menjadi salah satu komoditas unggulan Indonesia di pasar herbal dunia.
baca juga”Golongan Darah O Lebih Rentan Kolesterol Tinggi? Ini Kata Dokter!“