Penerapan Nutri-Level Diterima Industri, Ini Tujuan dan Mekanismenya
Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan bersama Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mulai menerapkan sistem label gizi Nutri-Level pada produk pangan. Kebijakan ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kandungan gula, garam, dan lemak dalam makanan.
Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono, menyebut kebijakan ini mendapat respons positif dari pelaku industri. Menurutnya, tidak ada penolakan signifikan karena industri telah dilibatkan sejak tahap awal perumusan.
baca juga”Cakupan Imunisasi 80,2%, Kemenkes Kejar Zero-Dose“
Industri Terlibat Sejak Awal Perumusan Kebijakan
Dante menjelaskan bahwa pembahasan Nutri-Level telah dilakukan sejak dua tahun lalu. Dalam proses tersebut, pemerintah melibatkan berbagai pihak industri, termasuk perusahaan multinasional.
Pendekatan kolaboratif ini membuat pelaku usaha memahami tujuan kebijakan dan bersedia menyesuaikan produk mereka. Dante menilai langkah ini efektif untuk memastikan implementasi berjalan tanpa hambatan besar.
Ia juga menegaskan bahwa saat ini aturan Nutri-Level masih bersifat imbauan, meski akan diarahkan menjadi kebijakan yang lebih mengikat di masa depan.
Apa Itu Nutri-Level dan Fungsinya bagi Konsumen
Nutri-Level merupakan sistem pelabelan gizi yang menggunakan kombinasi huruf dan warna untuk menunjukkan tingkat kandungan gula, garam, dan lemak (GGL) dalam produk pangan.
Label ini terdiri dari empat kategori, yaitu A, B, C, dan D. Setiap kategori dilengkapi warna yang berbeda, mulai dari hijau tua hingga merah.
Tujuan utama sistem ini adalah memberikan informasi yang mudah dipahami oleh konsumen. Dengan label sederhana, masyarakat dapat menilai kualitas gizi produk secara cepat saat berbelanja.
Alasan Penggunaan Huruf dan Warna pada Nutri-Level
Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, menjelaskan bahwa pemilihan huruf dan warna didasarkan pada kebiasaan masyarakat Indonesia.
Huruf A hingga D dipilih karena mudah dipahami sebagai indikator kualitas, mirip dengan sistem penilaian di sekolah. Nilai A menunjukkan kualitas terbaik, sedangkan D menunjukkan kategori kurang sehat.
Penggunaan warna juga memiliki makna visual yang kuat. Warna merah dipilih sebagai tanda peringatan, sementara hijau menunjukkan pilihan yang lebih sehat. Pendekatan ini mengacu pada persepsi umum masyarakat terhadap warna dalam kehidupan sehari-hari.
Rincian Kategori Nutri-Level Berdasarkan Kandungan Gizi
Setiap kategori dalam Nutri-Level memiliki batas kandungan gula, garam, dan lemak yang berbeda.
Kategori A (hijau tua) menunjukkan kandungan gula, garam, dan lemak yang sangat rendah. Produk dalam kategori ini tidak menggunakan pemanis tambahan.
Kategori B (hijau muda) masih tergolong sehat dengan kandungan gizi moderat. Produk dapat menggunakan pemanis alami dalam jumlah terbatas.
Kategori C (kuning) menunjukkan kandungan yang lebih tinggi dan perlu dikonsumsi dengan bijak. Produk dalam kategori ini dapat mengandung pemanis tambahan.
Kategori D (merah) menandakan kandungan gula, garam, atau lemak yang tinggi. Produk ini sebaiknya dibatasi konsumsinya karena berisiko bagi kesehatan jika dikonsumsi berlebihan.
Dampak Nutri-Level terhadap Industri dan Konsumen
Bagi industri, penerapan Nutri-Level mendorong reformulasi produk agar lebih sehat. Perusahaan didorong untuk mengurangi kandungan gula, garam, dan lemak guna mendapatkan label yang lebih baik.
Sementara itu, bagi konsumen, sistem ini membantu dalam membuat keputusan yang lebih sehat. Informasi yang sederhana dan visual memudahkan masyarakat memahami risiko konsumsi produk tertentu.
Kebijakan ini juga sejalan dengan upaya pemerintah dalam menekan angka penyakit tidak menular, seperti diabetes dan hipertensi, yang terus meningkat di Indonesia.
Tantangan dan Prospek Implementasi
Meski mendapat respons positif, penerapan Nutri-Level tetap menghadapi tantangan. Salah satunya adalah edukasi masyarakat agar memahami arti label dengan benar.
Selain itu, pengawasan terhadap implementasi di lapangan juga menjadi kunci keberhasilan kebijakan ini. Pemerintah perlu memastikan bahwa seluruh produk mematuhi standar yang telah ditetapkan.
Ke depan, Nutri-Level berpotensi menjadi standar nasional dalam pelabelan pangan. Jika diterapkan secara konsisten, kebijakan ini dapat meningkatkan kualitas konsumsi masyarakat secara keseluruhan.
Kesimpulan: Langkah Awal Menuju Pola Konsumsi Lebih Sehat
Penerapan Nutri-Level menunjukkan komitmen pemerintah dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Dengan dukungan industri dan sistem yang mudah dipahami, kebijakan ini memiliki peluang besar untuk berhasil.
Kolaborasi antara pemerintah, industri, dan konsumen menjadi kunci utama dalam mendorong perubahan pola konsumsi. Nutri-Level bukan hanya label, tetapi juga alat edukasi untuk hidup lebih sehat di masa depan.
baca juga”Pekan Imunisasi Dunia 2026, Wamenkes Dante Sorot Pentingnya Vaksinasi Sepanjang Usia“