Sarjana IKM Perkuat Pemerataan Akses Kesehatan di Era Digital
Perkembangan teknologi digital mengubah cara masyarakat memperoleh informasi dan layanan kesehatan. Internet, aplikasi kesehatan, dan layanan berbasis digital memberikan akses yang semakin cepat bagi masyarakat yang memiliki perangkat serta koneksi memadai.
Baca Juga “Building a Smart Hospital with Artificial Intelligence and Electronic Medical Records“
Namun, kemajuan tersebut belum otomatis membuat layanan kesehatan dapat dijangkau semua kelompok. Masyarakat di wilayah dengan fasilitas terbatas masih menghadapi hambatan geografis, infrastruktur, literasi digital, dan ketersediaan tenaga kesehatan.
Kondisi itu menunjukkan bahwa digitalisasi kesehatan perlu berjalan bersama strategi pemerataan. Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM) memiliki peran penting dalam memastikan teknologi mendukung kebutuhan masyarakat, termasuk kelompok rentan.
Teknologi Membuka Peluang Perluasan Layanan Kesehatan
SKM memiliki ruang kerja yang luas dalam upaya pencegahan penyakit dan peningkatan kesehatan masyarakat. Perannya mencakup promosi kesehatan, pemberdayaan masyarakat, pengumpulan data, penyusunan program, serta peningkatan akses terhadap pelayanan.
Pendekatan kesehatan masyarakat juga mempertimbangkan lingkungan, perilaku, kondisi sosial, dan karakteristik kelompok sasaran. Dengan memahami faktor tersebut, SKM dapat membantu merancang intervensi yang lebih sesuai dengan kebutuhan lokal.
Teknologi digital dapat memperkuat berbagai fungsi tersebut. SKM dapat memanfaatkannya untuk menyebarkan edukasi, mengumpulkan informasi kesehatan, memantau kondisi masyarakat, serta memperluas komunikasi dengan kelompok sasaran.
Pemanfaatan mobile health atau mHealth menjadi salah satu contoh penerapan teknologi tersebut. Menurut Tunny et al. (2025), mHealth dapat mendukung kegiatan edukasi dan pemantauan kesehatan masyarakat.
Teknologi juga dapat membantu tenaga kesehatan menjangkau masyarakat yang menghadapi kendala jarak. Namun, efektivitasnya tetap bergantung pada ketersediaan perangkat, jaringan internet, kemampuan pengguna, dan kualitas informasi yang diberikan.
Kesenjangan Digital Tetap Menjadi Tantangan
Digitalisasi kesehatan memiliki risiko apabila penerapannya tidak mempertimbangkan kesenjangan kemampuan masyarakat. Kelompok yang tidak memiliki perangkat atau akses internet memadai dapat semakin tertinggal ketika layanan semakin bergeser ke platform digital.
Literasi digital juga menjadi faktor penting. Masyarakat membutuhkan kemampuan untuk mencari, memahami, menilai, dan menggunakan informasi kesehatan secara tepat.
Kesenjangan tersebut tidak hanya berkaitan dengan teknologi. Faktor ekonomi, pendidikan, lokasi tempat tinggal, usia, dan kondisi sosial juga dapat memengaruhi kemampuan seseorang memanfaatkan layanan digital.
Karena itu, SKM perlu melihat teknologi sebagai alat untuk memperluas akses, bukan sebagai pengganti seluruh bentuk pelayanan kesehatan. Pendekatan langsung kepada masyarakat tetap diperlukan untuk kelompok yang belum mampu menggunakan layanan digital secara optimal.
Tunny et al. (2025) menyoroti kesenjangan akses kesehatan yang masih dihadapi populasi rentan. Temuan tersebut memperkuat kebutuhan terhadap pendekatan digital yang inklusif dan sesuai kondisi masyarakat.
SKM Tetap Dibutuhkan di Tengah Transformasi Digital
Kehadiran teknologi tidak menghilangkan kebutuhan terhadap tenaga kesehatan masyarakat. Sebaliknya, transformasi digital membuat kompetensi SKM semakin beragam.
SKM perlu memahami cara menggunakan data dan teknologi untuk mendukung program kesehatan. Pada saat yang sama, mereka tetap harus memahami persoalan sosial dan kebutuhan masyarakat di lapangan.
Kedekatan dengan masyarakat menjadi salah satu kekuatan pendekatan kesehatan masyarakat. McCollum et al. (2016) menunjukkan bahwa keberadaan tenaga kesehatan yang dekat dengan masyarakat dapat membantu mengurangi ketimpangan dalam akses dan pemanfaatan pelayanan.
Pendekatan tersebut relevan ketika layanan digital berkembang pesat. SKM dapat berperan sebagai penghubung antara teknologi, tenaga kesehatan, pemerintah, dan masyarakat.
Di tingkat komunitas, SKM dapat membantu mengenali kelompok yang belum terjangkau layanan digital. Mereka juga dapat menyusun edukasi sesuai tingkat literasi dan kondisi sosial masyarakat.
Strategi Digitalisasi Perlu Mengutamakan Kelompok Rentan
Penerapan teknologi kesehatan perlu memperhatikan siapa yang dapat mengakses dan menggunakan layanan tersebut. Pemerintah dan penyelenggara layanan dapat menyediakan alternatif bagi masyarakat yang belum memiliki akses digital.
Edukasi tatap muka dapat tetap dipertahankan sebagai pendamping layanan berbasis aplikasi. Pendekatan tersebut membantu memastikan masyarakat tidak kehilangan akses hanya karena keterbatasan teknologi.
SKM juga dapat membantu memetakan kebutuhan masyarakat berdasarkan wilayah dan kelompok sasaran. Data tersebut dapat menjadi dasar dalam menentukan bentuk intervensi yang paling sesuai.
Penggunaan teknologi harus tetap memperhatikan keamanan data dan kualitas informasi kesehatan. Masyarakat perlu mendapatkan informasi yang dapat dipercaya agar tidak mengambil keputusan berdasarkan sumber yang keliru.
Peran SKM Akan Semakin Strategis
Era digital memberikan peluang bagi SKM untuk memperluas jangkauan promosi kesehatan dan pengumpulan data. Teknologi juga dapat membantu mempercepat pemantauan berbagai kondisi kesehatan masyarakat.
Namun, keberhasilan transformasi tersebut tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi. Pemerataan infrastruktur, peningkatan literasi digital, kualitas sumber daya manusia, dan pemahaman terhadap kebutuhan lokal juga menentukan hasilnya.
Tantangan kesehatan di era digital pada akhirnya bukan sekadar bagaimana teknologi digunakan. Persoalan yang lebih penting adalah memastikan manfaat teknologi dapat dirasakan oleh masyarakat secara adil.
SKM memiliki posisi strategis dalam proses tersebut. Dengan menggabungkan kompetensi kesehatan masyarakat dan pemanfaatan teknologi, SKM dapat membantu memperluas akses layanan sekaligus menjaga agar kelompok rentan tidak tertinggal.
Transformasi digital seharusnya menjadi sarana untuk memperkuat pemerataan kesehatan. Dengan pendekatan yang inklusif dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat, perkembangan teknologi dapat mendukung layanan kesehatan yang lebih mudah dijangkau, adaptif, dan berkeadilan.
Baca juga “BINUS HealthTech Festival 2026 Dorong Inovasi Teknologi untuk Layanan Kesehatan yang Lebih Merata“