Lima Langkah Efektif Mencegah Fatty Liver Sejak Usia Muda
Perlemakan hati atau fatty liver kini tidak lagi identik dengan konsumsi alkohol berlebihan. Gaya hidup modern yang ditandai dengan pola makan tinggi gula, kurang aktivitas fisik, serta meningkatnya angka obesitas membuat penyakit ini semakin banyak ditemukan pada usia produktif, bahkan pada anak dan remaja.
Kondisi tersebut perlu mendapat perhatian karena fatty liver yang tidak ditangani dapat berkembang menjadi peradangan hati, fibrosis, hingga sirosis. Kabar baiknya, sebagian besar kasus dapat dicegah melalui perubahan gaya hidup yang konsisten sejak dini.
Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, dr. Widya Khairunnisa Sarkowi, MSc, menegaskan bahwa modifikasi gaya hidup masih menjadi strategi paling efektif untuk mencegah maupun mengatasi perlemakan hati.
“Bukti ilmiah menunjukkan bahwa perubahan gaya hidup tetap menjadi cara paling efektif untuk mencegah dan mengatasi fatty liver,” ujar Widya.
baca juga”Kesalahan Diet yang Menghambat Hasil Penurunan Berat Badan“
Menurunkan Berat Badan dan Mengurangi Gula Berlebih
Salah satu langkah utama yang direkomendasikan adalah menurunkan berat badan secara bertahap bagi individu yang mengalami kelebihan berat badan atau obesitas. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa penurunan berat badan sekitar 5 hingga 10 persen dapat membantu mengurangi penumpukan lemak di hati serta menekan risiko peradangan dan fibrosis.
Selain itu, konsumsi gula tambahan perlu dibatasi. Minuman manis seperti teh dengan gula berlebih, kopi susu kekinian, minuman boba, soda, sirup, dan minuman kemasan sering menjadi sumber kalori tersembunyi yang berkontribusi terhadap peningkatan lemak hati.
Menurut rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), konsumsi gula bebas sebaiknya tidak melebihi 10 persen dari total kebutuhan energi harian. Bahkan, batas ideal yang dianjurkan berada di bawah 5 persen untuk memberikan manfaat kesehatan yang lebih optimal.
Terapkan Pola Makan Seimbang dan Aktif Bergerak
Pola makan sehat juga menjadi fondasi penting dalam menjaga kesehatan hati. Widya menyarankan masyarakat menerapkan prinsip gizi seimbang dengan mengisi setengah piring makan menggunakan sayur dan buah, seperempat piring protein, serta seperempat piring karbohidrat.
Makanan ultraproses, gorengan, camilan tinggi kalori, serta makanan dengan kandungan gula dan lemak tinggi sebaiknya dibatasi. Pola makan seperti ini tidak hanya membantu menjaga berat badan, tetapi juga mendukung fungsi metabolisme tubuh secara keseluruhan.
Di samping pengaturan pola makan, aktivitas fisik rutin memiliki peran besar dalam mencegah fatty liver. WHO merekomendasikan aktivitas fisik intensitas sedang selama 150 hingga 300 menit setiap minggu. Durasi tersebut setara dengan sekitar 30 menit aktivitas selama lima hari dalam sepekan.
Latihan kekuatan atau beban sebanyak dua kali dalam seminggu juga dianjurkan. Aktivitas ini dapat membantu meningkatkan massa otot sekaligus memperbaiki sensitivitas insulin yang berhubungan erat dengan risiko gangguan metabolik.
Pemeriksaan Rutin Membantu Deteksi Dini Risiko Fatty Liver
Pencegahan tidak hanya dilakukan melalui perubahan gaya hidup, tetapi juga dengan memantau faktor risiko secara berkala. Pemeriksaan indeks massa tubuh (IMT), lingkar perut, tekanan darah, kadar gula darah, serta profil lipid dapat membantu mengidentifikasi risiko lebih awal.
Pada kelompok yang memiliki faktor risiko tinggi, dokter dapat merekomendasikan pemeriksaan fungsi hati maupun USG abdomen untuk mendeteksi adanya penumpukan lemak pada organ hati sebelum muncul gejala yang lebih serius.
Pencegahan Fatty Liver Sebaiknya Dimulai Sejak Masa Anak-anak
Kebiasaan Sehat Sejak Dini Kurangi Risiko Gangguan Hati
Widya menekankan bahwa upaya pencegahan sebaiknya dimulai sejak usia anak. Kebiasaan makan dan aktivitas fisik yang terbentuk sejak dini memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan metabolik saat dewasa.
Berdasarkan rekomendasi North American Society for Pediatric Gastroenterology, Hepatology and Nutrition (NASPGHAN), skrining fatty liver dapat dipertimbangkan pada anak dengan obesitas mulai usia 9 hingga 11 tahun. Pemeriksaan menjadi lebih penting jika terdapat faktor risiko tambahan seperti resistensi insulin, diabetes, dislipidemia, atau riwayat keluarga dengan fatty liver.
Anak-anak perlu didorong untuk mengonsumsi makanan bergizi seimbang, aktif bermain di luar ruangan, tidur cukup, serta mengurangi waktu menatap layar perangkat digital. Kebiasaan tersebut membantu menjaga keseimbangan energi dan mencegah peningkatan berat badan berlebih.
Remaja Perlu Waspadai Gaya Hidup Modern
Pada kelompok remaja, edukasi kesehatan perlu disesuaikan dengan tantangan gaya hidup saat ini. Konsumsi minuman tinggi gula, makanan cepat saji, kebiasaan begadang, kurang bergerak, serta stres dapat meningkatkan risiko obesitas dan gangguan metabolik yang berujung pada perlemakan hati.
Para ahli menilai bahwa meningkatnya kasus fatty liver pada usia muda menjadi pengingat penting bahwa kesehatan hati sangat dipengaruhi oleh pilihan gaya hidup sehari-hari. Dengan menerapkan pola makan sehat, rutin berolahraga, menjaga berat badan ideal, dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala, risiko fatty liver dapat ditekan sejak dini. Langkah pencegahan yang dimulai sejak masa anak-anak dan remaja akan memberikan manfaat jangka panjang bagi kesehatan hati dan kualitas hidup di masa depan.
baca juga”Bukan Cuma Kelelahan, Dokter Ungkap Penyebab Ibu Bekerja Keguguran“